Tidak terjangkau jaringan internet, guru di pedalaman Kabupaten Nunukan datang kerumah murid untuk mengajar. (foto Istimewa/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Mayoritas guru dan orang tua murid SD dan SMP di wilayah pedalaman dan perbatasan Kabupaten Nunukan, seperti di Kecamatan Sebuku, Sembakung, Sembakung Atulai, Tulin Onsoi, Lumbis, Lumbis Ogong dan Seimenggaris, masih memilih proses belajar mengajar dari rumah, dan menolak pelaksanaan pembelajaran tatap muka  selama masih bersatus zona kuning Covid-19.

“Saya ketemu langsung guru SD dan SMP disana, dari puluhan sekolah hanya ada 2 sekolah yang siap tatap muka, sekolah lain tidak berani,” kata Kadisdikbud Nunukan, H. Junaidi pada Niaga.Asia, Jum’at (24/07/2020).

Meski belum siap melaksanakan tatap muka, sejumlah kesekolah disana telah menyiapkan syarat pelaksanakan pendidikan tatap muka, dengan menyiapkan tempat cuci tangan dan masker, termasuk pembatasan jumlah murid belajar.

Pengadaan alat-alat standar protokol kesehatan cuci tangan, masker dan hand sanitizer diambil dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) nasional dan dibantu pihak-pihak perusahaan yang peroperasi di sekitar Kecamaan Dapil III.

“Kalau saya lihat alat-alat kesehatan di Kecamatan Lumbis dan Tulin Onsoi sangat bagus dan canggih, tempat cuci tangan dan masker sudah siap,” ungkap Junaidi.

Penolakan sekolah menggelar pendidikan tatap muka di masa pendemi dikarenakan wilayah kecamatan tersebut berada di perbatasan Indonesia, ada rasa ketakutan masuknya warga yang berpergian keluar negeri atau luar daerah masuk dengan membawa virus.

Sejumlah sekolah di Kabupaten Nunukan sudah melnyiapkan sarana pendudukung pelaksanaan protokol kesehatan apabila sekolah nanti sudah dibuka untuk penyelanggaran belajar secara tatap muka. (foto Istimewa/Niaga.Asia)

Pendidikan tatap muka pasti dilakukan apabila Pemerintah Nunukan telah bersatus zona hijau. Bahkan Bupati Nunukan pernah mengatakan akan membuka kembali pendidikan sekolah di bulan Agustus dengan cara bertahap dan diatur seaman mungkin.

“Ibu Bupati bilang menjelang Agustus akan dibuka sekolah, tapi tidak serentak, mungkin dimulai dari siswa baru kelas VII SMP, namun syaratnya tetap harus zona hijau dulu,” sebutnya.

Dari hasil pertemuan sekolah dan orang tua itulah, Disdikbud Nunukan membuat survei penilaian, dimana 65 persen orang tua dan sekolah menginginkan tetap Belajar Dari  Rumah (BDR) dan hanya 35 persen menerima tatap muka.

Dalam beberapa survei lainnya, rata-rata alasan orang tua yang meminta sekolah tatap muka bukan karena ingin anaknya pintar, ada persoalan lainnya yakni, orang tua susah mengurus anaknya, sehingga menyerahkan anaknya ke sekolah.

“Jujur ini ya, rata – rata orang mereka sibuk bekerja dan susah mengurus anaknya. Artinya, orang tua yang mau sekolah tatap muka tidak semua ingin anaknya pintar,” kata Junaidi.

Proses  BDR masih pilihan terbaik dalam menyikapi pandemi, kalaupun nantinya sudah memasuki zona hijau, pasti ada perintah dari Bupati dan instansi terkait mengizinkan sekolah membuka belajar tatap muka.

Saat ini, sekolah di dapil III masih menerapkan BDR dan sebagian wilayah yang tidak memiliki jaringan internet dan listrik menerapkan belajar tatap muka terbatas dengan cara, guru mengunjung rumah-rumah murid secara bergantian.

“Seperti guru di Seimenggaris dan wilayah lainnya datang ke perumahan/mess atau rumah muridnya membuka kelompok belajar, tapi itu tidak setiap hari,” katanya. (002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *