Mendag Tegaskan Siap Fasilitasi Sekolah Vokasi Ikuti Business Matching

Mendag Busan saat mengunjungi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Raden Umar Said hari ini, Kamis, (12/3) di Kudus, Jawa Tengah.  (Foto Kemendag/Niaga.Asia)

KUDUS.NIAGA.ASIA – Menteri Perdagangan Budi Santoso (Busan) menegaskan komitmen Kementerian Perdagangan dalam mendorong peningkatan ekspor jasa sebagai bentuk ekspor potensial Indonesia. Untuk itu, Kemendag siap memfasilitasi sekolah vokasi dalam presentasi bisnis (pitching) dan penjajakan bisnis (business matching) yang difasilitasi perwakilan perdagangan (Perwadag) RI di luar negeri. Strategi ini dapat membuka akses pasar ekspor jasa sehingga siswa dan lulusan sekolah vokasi dapat diserap industri internasional.

Hal tersebut disampaikan Mendag Busan saat mengunjungi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Raden Umar Said hari ini, Kamis, (12/3) di Kudus, Jawa Tengah.

Selain mengunjungi SMK dengan spesialisasi di bidang animasi tersebut, Mendag Busan juga mengunjungi dua SMK lain di Kudus, yaitu SMK NU Banat dengan spesialisasi tata busana dan SMK Wisudha Karya dengan spesialisasi jasa keahlian. Ketiga SMK tersebut merupakan SMK binaan Djarum Foundation di bidang pendidikan.

“Tugas kami adalah mencarikan pasarnya. Sebagai langkah selanjutnya, Kemendag akan memfasilitasi presentasi daring antara sekolah vokasi dan 46 perwadag RI untuk membantu pemasaran ke luar negeri. Perwadag akan mencarikan pembelinya, kemudian mempertemukan secara daring melalui business matching,” kata Mendag Busan.

Menurut Mendag Busan, pitching dengan perwadag RI akan menjadi jalan untuk semakin membuka peluang ekspor jasa terutama sektor jasa bisnis lainnya yang meliputi, antara lain, jasa gim; animasi; niaga elektronik (e-commerce); Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE); dan desain mulai dari grafis, kemasan, hingga fesyen. Potensi ekspor jasa juga dapat semakin maksimal dengan membuka pasar-pasar potensial.

Berdasarkan data Bank Dunia selama periode 10 tahun (2014—2023), rata-rata kontribusi nilai jasa terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia mencapai 63,3 persen. Di Indonesia, kontribusi nilai jasa masih sebesar 43,8 persen dari PDB, dan menunjukkan masih besarnya peluang peningkatan kontribusi nilai jasa Indonesia terhadap PDB nasional. Sementara itu, Bank Indonesia mencatat, pada 2025, nilai ekspor jasa Indonesia mencapai USD 42,80 miliar.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang hadir dalam kunjungan tersebut mengatakan, keberadaan sekolah vokasi dan balai latihan kerja (BLK) menjadi sarana pendukung untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja.

“Saat ini sudah tersedia 4.200 BLK. Secara tidak langsung, terhitung pada 2025, serapan tenaga kerja di Provinsi Jawa Tengah mencapai hampir 470 ribu orang. Investasinya hampir Rp88 triliun dan dominasinya adalah padat karya,” kata Luthfi.

Direktur Djarum Foundation Primadi H. Serad menyampaikan pentingnya kesiapan lulusan SMK agar dapat terserap optimal oleh industri. Oleh karena itu, Djarum Foundation terus mendorong SMK di Kudus untuk mencetak lulusannya dengan kompetensi tinggi. Ia berharap, pemerintah dapat semakin membukakan jalan bagi talenta-talenta vokasi agar dapat terserap dengan baik di dalam maupun luar negeri.

“Animasi ini permintaannya tinggi, tetapi suplainya sedikit. Tugas kami adalah menjembatani pemenuhan permintaan yang tinggi. Untuk itu, talenta vokasi harus kompeten dari sisi infrastruktur, guru-guru, dan relasi. Hal inilah yang kami butuhkan agar kami dapat dibantu membukakan jalan bagi mereka untuk berkarya,” kata Primadi.

Salah satu siswi SMK Raden Umar Said, Alika, menyampaikan ketertarikannya terhadap animasi. Ia memilih belajar animasi di SMK Raden Umar Said untuk mewujudkan mimpinya menjadi concept artist atau storyboard artist. Saat ini, ia juga sedang terlibat proyek yang akan digunakan langsung oleh klien. “Proyek yang sedang saya kerjakan saat ini adalah membuat mini series dari sebuah jenama susu untuk momen Ramadan,” kata Alika.

Sementara itu, hasil karya pelajar SMK NU Banat telah melanglang buana mulai dari Jepang, Singapura, Italia, Prancis, hingga Hong Kong. Salah satu siswi SMK NU Banat, Dayana, menyampaikan, SMK NU Banat tidak hanya mengajarkan teknik membuat busana, tetapi juga mengembangkan kemampuan membaca tren yang akan bermanfaat untuk meningkatkan daya saing.

“Kami diajarkan untuk membuat busana seperti tren-tren yang akan maju. Jadi, ketika membuat busana, kami tidak akan ketinggalan zaman,” ujar Dayana.

Salah satu pelajar NU Banat lainnya juga menunjukkan antusiasme untuk menjadi wirausahawan dengan mengatakan ingin mendirikan jenama lokal fesyen sendiri. Motivasi ini ia dapatkan dari sekolah setelah mendapatkan pelajaran penjenamaan (branding).

Kemudian, di SMK Wisudha Karya, Mendag Busan berkeliling melihat fasilitas pelatihan untuk jasa pelayaran, kelistrikan, hingga teknik mesin. Lulusan SMK Wisudha Karya juga telah terserap industri di luar negeri seperti ke Jepang.

Sosialisasi GASPOL

Di SMK NU Banat, Mendag Busan mengajak para siswa untuk ikut serta dalam beberapa kegiatan promosi oleh Kemendag seperti Jakarta Muslim Fashion Week dan Trade Expo Indonesia.

“Dalam kegiatan promosi yang digelar Kemendag, para desainer berkesempatan bertemu dan mempresentasikan karya-karya mereka. Kami juga mempertemukan para desainer dengan industri agar bisa memasarkan produk-produk tersebut,” kata Mendag Busan.

Selain itu, Mendag Busan mengajak para siswa untuk berpartisipasi mendorong penggunaan produk lokal melalui program Gerakan Kamis Pakai Lokal (Gaspol) yang diinisiasi Kemendag. Ajakan untuk bangga menggunakan produk lokal ini akan memberikan efek berganda bagi ekonomi domestik, termasuk dalam mendorong rasio kewirausahaan melalui produk-produk hasil keahlian tertentu seperti fesyen yang permintaannya tinggi di dalam negeri.

“Ketika adik-adik membuat desain dan produk yang bagus, yang akan memakainya adalah kami juga. Setelah di dalam negeri kita kuat, pasti di luar negeri kita juga akan menjadi pesaing yang kuat,” imbuh Mendag Busan.

Program GASPOL awalnya merupakan ajakan bagi pegawai Kemendag untuk menggunakan produk-produk lokal ke kantor setiap Kamis. Namun, kesadaran dan minat masyarakat luas dalam menggunakan produk lokal yang terus tumbuh mendorong Mendag Busan untuk menyebarkan semangat cinta produk lokal ke berbagai daerah di Indonesia.

Statista mencatat, peluang pasar produk fesyen di dalam negeri masih cukup menjanjikan dengan proyeksi nilai pasar mencapai USD 24,5 miliar pada 2026 dan terus tumbuh rata-rata pertahun 3,6 persen selama 5 tahun ke depan. Dengan begitu, lulusan-lulusan sekolah NU Banat pun berkesempatan untuk memanfaatkan peluang pasar tersebut.

Sumber: Siaran Pers Kemendag | Editor: Intoniswan

Tag: