Menengok Kampung Nelayan Berdasi di Balikpapan Beromzet Rp40 juta

Kampung Nelayan Berdasi binaan Pertamina (Foto : Pertamina)

BALIKPAPAN.NIAGA.ASIA – Pemanfaatan maksimal dari pembudidayan kepiting atau akrab disebut zero waste, berhasil dilakukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Patra Bahari Mandiri, sebuah Kelompok Nelayan binaan dari Pertamina Marketing Operation Region VI Integrated Terminal Balikpapan dari tahun 2018, sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility. Omzet hingga Rp 40 juta telah dikantongi KUB itu, akibat tempat yang semakin nyaman dikunjungi, dan pemasaran yang cukup baik.

Berlokasi di Desa Solok Oseng RT 3, Kelurahan Kariangau, Kecamatan Balikpapan Barat, kini kampung itu terkenal dengan sebutan Kampung Nelayan Berdasi.

Berkat kegigihan dari nelayan-nelayan pesisir yang ingin bergerak mengubah nasib keluarganya, Rustam bersama beberapa orang lainnya, dengan pengalaman yang dimiliki memulai mencari cara bagaimana mendapatkan hasil lebih dari tangkapannya sehari-hari, dikarenakan menjadi nelayan tidak memiliki pendapatan yang pasti.

Roberth MV Dumatubun, Region Manager Comm, Rel & CSR Kalimantan mengatakan, sejak tahun 2018, Pertamina menjajaki potensi yang ada di daerah tersebut. Dimana kelompok nelayan sendiri saat itu belum mencapai 15 orang seperti sekarang.

“Pertamina melihat adanya kemauan dari masyarakat setempat dan lokasi yang cukup strategis untuk dikembangkan bukan hanya dari pembudidayaan tetapi sebagai lokasi wisata edukasi,” kata Roberth, melalui penjelasan tertulis diterima Niaga Asia, Selasa (29/9).

Pendirian fasilitas budidaya kepiting soka dan penggemukan kepiting bakau, telah dilaksanakan pada tahun 2018. Nelayan sekarang memiliki lebih kurang 300 crab box untuk pembudidayaan kepiting soka. Syarat kepiting bakau yang dapat dibudidayakan sebagai kepiting soka (kepiting cangkang lunak), yaitu kepiting yang memiliki berat lebih kurang 25 gram.

Adanya fasilitas tersebut, nelayan yang semula menjual hasil tangkapannya kepada pengepul untuk dijual lagi di pasar dengan harga hanya 25-40 ribu/kg, kini mereka dapat menjual kepiting dengan kisaran 75-80 ribu/kg. Sedangkan, untuk kepiting soka dapat dihargai 100 ribu per satu kg berkat packaging yang rapih, dan kualitas kepiting yang dapat bersaing di pasaran.

Roberth menjelaskan, Pertamina juga bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin pada tahun 2018, untuk inovasi penggunaan ekstrak herbal (ekstrak bayam), guna merangsang proses percepatan molting (pelepasan kulit dan pergantian cangkang keras) dengan kisaran waktu molting, 14 hari lebih cepat dari molting secara alami.

Tidak selesai sampai di situ, Pertamina juga bekerjasama dengan Institut Teknologi Kalimantan (ITK), untuk melakukan inovasi kembali memanfaatkan limbah cangkabg kepiting soka untuk dibuat menjadi inovasi kaldu kepiting. ITK melakukan pendampingan bersama Pertamina baik dari penyediaan alat, pelatihan, packaging, dan bantuan pemasarkan produk. Inovasi kaldu bubuk tersebut saat ini terkenal dengan produk “braco“. Produk tersebut telah memiliki nomor PIRT dan dipasarkan melalui online market.

“Ampas atau sisa dari pembuatan Braco ini juga masih dimanfaatkan menjadi pelet atau makanan ikan pada tambak yang juga dibantu pembuatannya oleh Pertamina seluas 2 hektare,” ungkap Roberth.

Baik dari kepiting bakau yang dewasa dan kepiting soka, KUB Patra Bahari Mandiri sudah memiliki langganan untuk memasok resto dan cafe, yang ternama di Kota Balikpapan, dan tak sedikit orang yang datang ke Kampung Nelayan Berdasi, untuk membeli kepiting tersebut.

Pada saat pandemi Covid-19, kampung ini juga terkena dampaknya. Dimana, terpaksa kepiting soka tidak dibudidayakan terlebih dahulu karena permintaan dari restoran juga menurun. Namun atas kelihaian Kelompok Usaha Bersama, tempat tersebut masih ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal untuk memancing.

Kampung ini juga dinobatkan sebagai Kampung Tangguh Nasional sebagai sebuah kampung ataupun usaha yang dapat survive selama pandemi Covid-19. Pertamina bersama dengan mitra penunjang juga melakukan pendampingan dan pelatihan dari sisi manajemen usaha.

Rustam, Ketua Kelompok Usaha Patra Bahari Mandiri mengatakan, sesuai dengan branding yang dibuat yaitu Kampung Nelayan Berdasi, nantinya semua pengunjung yang datang akan diberikan dasi sebagai ciri khas dan tiket masuk kawasan.

“Nelayan di Desa Solok Oseng merasa bahwa mereka juga memiliki kecerdasan dan kesempatan yang sama, seperti para pengusaha besar. Harapan kedepannya, profesi nelayan ini dapat diperhitungkan dan manfaatnya dapat dirasakan bagi masyarakat. Terutama kami para nelayan,” harapnya. (006)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *