Menengok Usaha Kreatif Batik Lulantatibu di Nunukan, Banjir Order Meski Pandemi Covid-19

Pengrajin Batik Lulantatibu di Nunukan, Kaltara. Meski pandemi, tidak menyurutkan order batik khas Nunukan itu. (Foto : Niaga Asia/Budi Anshori)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Pandemi Covid-19 sampai saat ini memberikan dampak yang luar biasa terhadap bisnis dan perekonomian negara. Sejumlah tempat usaha mengalami penurunan omzet, dan mengurangi jumlah pekerja.

Namun siapa sangka, penurunan produksi dan pendapatan dimasa pendemi, tidak berpengaruh terhadap usaha kreatif home industri atau industri rumahan pembuatan kain batik eknik Lulantatibu asal Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara).

Lulantatibu sendiri, merupakan singkatan gabungan etnis suku asli di Kaltara, yakni adat Lundayeh, Tagelan, Tahol Agabang dan Tidung Bulungan. Perpaduan eknis tersebut, dituangkan dalam corak atau kain batik.

Kepala Seksi Kemitraan dan Ekonomi Kreatif, Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora) Nunukan Wahyu Muji Lestari mengatakan, corak atau motif yang tertuang dalam batik Lulantatibu, telah didaftarkan sebagai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

“Yang didaftarkan dalam HAKI adalah ciri atau corak gambar yang menghiasi kain batik Lulantatibu,” kata Wahyu, Selasa (2/3).

Wahyu menerangkan, tiap motif batik kain Lulantatibu memiliki filosofi. Misalkan corak bunga rasa diartikan sebagai obat segala macam penyakit, dan tolak bala ditambahkan persatuan. Adapun motif tameng adalah sebuah perlindungan.

Motif arit tabu diartikan arit ukiran dan tabu tempayan. Secara harfiah, motif khusus etnik Lundaye ini memiliki filosofi bahwa tembayan, adalah sebuah tempat menyimpan hasil bumi beras atau nira, dan bisa pula menyimpan mayat.

“Masih banyak lagi motif-motif batik Lulantatibu lainnya, diambil dari etnis adat yang lahir ratusan tahun lalu,” ungkapnya.

Berbeda dengan usaha kreatif lainnya, produksi batik khas Nunukan mengalami peningkatan ditahun 2020. Padahal tahun tersebut Indonesia sedang mengalami pandemi yang dampaknya cukup signifikan mengantam pelaku usaha.

Omzet pelaku usaha pembuatan batik Lulantatibu baik tulis ataupun printing, meningkat 70 persen dari penghasilan rata-rata Rp 10 juta. Di tahun-tahun sebelumnya naik menjadi sekitar Rp 50 juta per tahun.

“Kita punya pelaku usaha kreatif batik binaan Disparpora. Rata-rata penghasilan mereka naik karena banyak permintaan pesanan lokal dan luar negeri,” ungkapnya.

Selain batik tulis dan printing, pelaku usaha tetap memproduksi batik tulis yang pewarnaan diambil dari bahan-bahan alam. Hanya saja, hasil batik pewarnaan alam ini terlihat buram, dan berbeda dengan pewarnaan buatan.

Untuk pengembangan usaha batik Nunukan, Disparpora Nunukan memperkenalkan batik Lulantatibu keluar daerah, difasilitasi Bank Indonesia (BI). Pihak perbankan diharapkan dapat memberikan kemitraan baik pelatihan ataupun permodalan.

“Saya sendiri pelaku usaha batik Lulantatibu. Saya pernah produksi batik Lulantitibu kain sutra untuk pajangan, teryata diminati orang dibeli Rp 8 juta,” sebut dia.

Pengembangan usaha batik khas semakin cerah, setelah pemerintah dan sekolah mengharuskan penggunaan kain batik di hari tertentu, orderan batik tulis, cetak dan printing berdatangan dari instansi pemerintah daerah, dan juga provinsi.

Penghidupan ekonomi kerakyatan ini selaras dengan niat Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang. Biasanya pembeli batik khas, datang ke Disparpora, dan bertanya tempat-tempat usaha pembuatan kain batik dengan corak-corak tertentu.

“Di Nunukan ada 8 pelaku usaha pembuatan batik. Masing-masing mereka memproduksi jenis batik berbeda. Ada batik tulis, batik cetak dan printing,” tutup Wahyu. (002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *