Petugas kepolisian Nunukan melakukan rekonstruksi ulang kasus kecelakaan lalulintas  yang menewaskan, Nurhasanah, seorang guru ngaji. (foto Budi Anshori/Niaga,Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Sempat mengendap hampir 2 tahun, berkas perkara kecelakaan maut yang menewaskan, Nurhasanah,  guru mengaji pada 08 Desember 2018, akhirnya disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Nunukan.

“Sesuai undangan, hari ini sidang kedu, tapi jaksa penuntut umum (JPU) minta ditunda karena ada keperluan mendadak,” kata Nur Asikin, Senin (12/10).

Nur Asikin adalah putri dari almarhum Nurhasanah, yang berjuang menuntut keadilan atas perkara kecelakaan orang tuanya dengan pengendara motor MX nomor polisi KU 2690 XX. Pelaku adalah seorang pelajar SMKN di Nunukan.

Dalam kurun waktu menunggu kepastian perkara, Asikin dan keluarganya terus menerus mempertanyakan perkembangan kasusnya. Berbagai alasan disampaikan Jaksa baik keperluan pribadi ataupun keperluan dinas kantor.

“Ada rasa kesal dan geram, kenapa proses kasus lama sekali, kami sampai 6 kali datang ke Kejaksaan menanyakan perkembangan kasusnya,” tutur dia.

Upaya menuntut keadilan akhirya terpenuhi, Kejaksaan Nunukan pada September 2020 melimpahkan perkara ke Pengadilan Nunukan dan selang berapa hari kemudian, Jaksa meminta keluarga korban datang ke Pengadilan menghadiri undangan Diversi.

“Pertemuan diversi tanggal 4 Oktober 2020 dihadiri keluarga pelaku dan korban, Kami menolak upaya kesepakatan damai ataupun upaya-upaya lainnya diluar Pengadilan,” kata Nur Asikin.

Nur  berharap, perkara kecelakaan yang melibatkan anak-anak ini dapat dilaksanakan sesuai Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Umum Jalan (UU-LLAJ), tidak perduli berapa lama vonis, yang penting tuntutan keadilan berjalan sesuai aturan.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Umum (Pidum) Kejari Nunukan Andi Saenal, membenarkan adanya keterlambatan dalam pelimpahan perkara kecelakaan lalu lintas dengan korban wanita berusia 55 tahun, warga Sei Bilal, Kelurahan Nunukan Barar, Kecamatan Nunukan.

“Ada keluarga korban bertemu saya di kantor tanya perkara ini, saya betul-betul tidak tahu ada perkara ini,” ucapnya.

Setelah berbicara dan mendengarkan keluhan keluarga korban, Andi memerintahkan staf Pidum melakukan pengecekan berkas perkara dan memberikan waktu selama 2 minggu menyelesaikan segala keperluan dan kekurangaan berkas.

Kepada keluarga korban, Andi menjanjikan berkas perkara dilimpahkan paling lambat 2 minggu atau akhir September 2020. Janji ini telah dipenuhi dengan telah dilaksanakan sidang pertama dan sesuai jadwal 12 Oktober sidang kedua.

“Karena pelakunya tidak di tahan, mungkin jaksanya lupa ada perkara ini, tapi kami pastikan Kejaksaaan dan Pengadilan mempersidangkan kasusnya,” terangnya.

Terkait pelanggaran kasus anak, Kejaksaan menerapkan Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009, pasal 310 ayat (4) tentang UU LLAJ, bahwa pengendara karena kelalaiannya mengakibatkan hilangnya nyawa orang dijerat dengan ancaman kurungan maksimal 6 tahun.

“Vonis pidana perkara anak berbeda dengan orang dewasa, hukuman untuk anak bisa 2/3 dari hukuman orang dewasa,” terangnya. (002)

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *