Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

JAKARTA.NIAGA.ASIA-Perekonomian sedang mengalami perbaikan, trennya cukup konsisten semenjak bulan Juli, Agustus meskipun September ada indikator yang mengalami sedikit tekanan karena PSBB yang sempat dilakukan pada minggu kedua September.

“Namun ini tidak menghilangkan tren positif di kuartal ketiga yang cukup solid dari berbagai indikator,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN KiTa (Kinerja dan Fakta) pada Senin, (19/10).

Menurut Menkeu, hal ini terlihat dari sisi pergerakan konsumsi, listrik, ekspor, impor bahan baku dan barang modal yang cukup positif dan solid, belanja bansos yang tumbuh luar biasa tinggi secara month to month.

Sedangkan dari sisi deflasi, dari sisi daya beli masyarakat atau agregat demand masih mengalami tekanan namun tidak menggerus daya beli masyarakat.

Meskipun Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia sedikit mengalami penurunan di bawah treshold ekspansi namun kinerja belanja pemerintah mengalami akselerasi luar biasa termasuk belanja Pemulihan ekonomi Nasional (PEN).

Kinerja belanja pemerintah termasuk PEN mengalami akselerasi yang luar biasa pada bulan September ini. Pemerintah betul-betul menggunakan semua toolsnya baik belanja K/L, belanja PEN maupun transfer ke daerah.

“Kita berharap seluruh K/L konsisten pada kuartal keempat ini. Pemerintah daerah (Pemda) kita masih terus monitor secara ketat karena cukup besar dana yang tertransfer. Namun kalau Dana Desa yang pencairannya cukup meningkat, DAK Fisik, DAK Non Fisik maupun dana Otsus, kita berharap bisa membantu Pemda mengelola dan memulihkan ekonominya. Sehingga perbaikan ekonomi domestik ini yang sifatnya bertahap, kita harap akan terus bisa pertahankan dan akselerasi,” harapnya.

Ia menambahkan bahwa Indonesia terus melakukan pengendalian Covid-19 dengan memberikan dukungan sepenuhnya kepada pemerintah daerah (Pemda) maupun anggaran-anggaran. Ia menegaskan masyarakat luas perlu untuk ikut membantu dan mensukseskan dengan melakukan disiplin protokol kesehatan.

Ia mengakui bahwa memulihkan ekonomi tidak bisa bekerja sendiri. Oleh karena itu, Kemenkeu bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) mengkombinasikan kebijakan makro fiskal-moneter secara hati-hati untuk mendukung perekonomian.

“Tentu pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kita bersama Bank Indonesia melakukan kombinasi kebijakan makro fiskal-moneter secara hati-hati namun juga supportif terhadap pemulihan yang memang perlu mendapat dukungan,” jelasnya.

Namun ke depan, kebijakan-kebijakan lain tentu harus menjadi kontributor pemulihan ekonomi karena diperlukan untuk bisa memperbaiki ekonomi maupun kembali menciptakan kesempatan kerja. Sehingga ekonomi Indonesia kembali pulih namun fiskal terjaga dan mulai konsolidasi bertahap. Diharapkan masyarakat bisa mendapat manfaat dari instrumen-instrumen pemerintah tersebut. (*/001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *