aa
Peresmian 6 unit mesin PLTD Sei Bilal tahun 2017. (Foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Pergeseran mesin Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD) Sei Bilal, Nunukan ke Berau dan Tanah Tidung (KTT) menjadi pemicu terjadi kekurangan daya listrik hingga menyebabkan pemadaman bergilir yang terjadi dalam satu bulan terakhir ini.

Mesin bertenaga diesel yang pada akhir 2017 terpasang sebanyak 6 unit dengan daya mampu 6 Megawatt (MW) di PLTD Sei Bilal awalnya memberikan harapan besar mengatasi depisitnya bahkan surplus listrik untuk wilayah Pulau Nunukan dan Sebatik sekaligus.

Nyatanya, surplus listrik hanya bertahan sampai tahun 2018. Memasuki tahun 2019, pemadaman listrik terus terjadi dikarenakan kemampuan mesin yang tersedia tidak mencukupi beban puncak Nunukan di angka 12 MW yang dibutuhkan saat ini.

Dengan mengandalkan kemampuan mesin yang aktif saat ini sebesar 10 MW, PT PLN Rayon Nunukan prakris kekurangan daya mampu puncak sebesar 2 MW, dan untuk mengatasi kekurangan, dilakukan  pemadaman bergilir siang dan malam hari.

Manager PLN Rayon Nunukan Fajar Setiadi mengakui ada kekeliruan dalam kebijakan pergeseran mesin PLTD Nunukan dengan pertimbangan surplus daya mampu jika semua mesin baik PLTMG Sebaung dan PLTD beroperasi normal. “Perhitungan awalnya mesin aktif normal sesuai daya mampu, ternyata diawal tahun ada penurunan suplay listrik dari PLTMG dari 7 MW menjadi 3 MW,” ujarnya, Rabu (28/8/2019).

Imbas turunnya suplay membuat pemadaman tidak bisa terelakan, sedangkan mesin cadangan PLTD Sei Bilal sebagian telah direlokasi ke Kabupaten Berau dan Kabupaten Tanah Tidung (KTT) atas permintaan pimpinan PT PLN.

Terhadap kondisi ini lanjut Fajar, PT PLN Rayon Nunukan telah melaporkan rincian kebutuhan daya puncak dan kekurangan daya serta turunnya suplay PLTMG Sebaung agar segera diatasi dengan mempercepat pengiriman mesin pengganti.“Kita dijanji bantuan 1 mesin dan infonya dalam perjalanan menuju Nunukan. Untuk waktu pemasangan mesin belum bisa ditentukan,” bebernya.

Fajar menyampaikan, banyak kendala terhadap kemampuan kelistrikan di wilayah Kaltara, PT PLN harus mengatur dan membagi daya listrik agar semua mendapat penerangan, namun terkadang diperjalanan waktu, mesin-mesin mengalami kerusakan parah.

Dari beberapa kerusakan mesin itulah, PT PLN mengatasinya dengan menggeser mesin-mesin di beberapa tempat yang memiliki daya surplus seperti Nunukan, hanya saja pergeseran mesin di Nunukan tanpa back up mesin cadangan. “Mesin PLTD di Sei Limau jebol, unit 2 mesin PLTD Sei Bilal Nunukan overhoul, mesin unit 5 generatornya mati ditambah PLTMG Sebaung hanya 3 MW dari kewajiban suplay 7 MW,” jelasnya.

Pemadaman bergilir tanpa kepastian mendapat perhatian oleh perhimpunan mahasiswa Nunukan, perwakilan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Nunukan Ahmad Abdurahman berinisiatif melakukan pertemuan khusus dengan manajer PT PLN Rayon Nunukan.

“Kami dan masyarakat Nunukan minta kejelasan, pelanggan lsitrik Nunukan merasa dibohongi dengan janji surplus listrik di perbatasan Nunukan,” katanya.

Ahmad menuturkan, Kami perkumpulan mahasiswa PMII bersama kelompok lainnya akan menggelar aksi protes dan menuntut janji perbaikan listrik, kami juga meminta konpensasi dari padamnya listrik karena kesalahan PLN.

Bukan sekedar pemadaman listrik, jadwal pemadaman yang tidak pasti membuat pelanggan dirugikan, berapa banyak pelayanan publik perkantoran terganggu, pedagang ikut terganggu. Semua kenyamanan ikut terganggu karena padamnya listrik.

“Minta mesin baru jangan mesin bekas, kalau mesin sudah di Nunukan, jangan digeser kemana-mana, jangan buat kami selalu kegelapan di ujung negeri ini,” pungkas Ahmad. (002)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *