
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Malam Minggu, Sabtu 31 Januari 2026, kawasan Taman Titik Nol Tenggarong dipadati para pengunjung. Suasana ramai terasa sejak sore menjelang malam, dengan pengunjung yang datang silih berganti.
Banyak anak muda dan keluarga tampak bersenda gurau di jantung kota tersebut. Mereka tak hanya sekadar bersantai dan berbincang, tetapi juga memanfaatkan momen akhir pekan untuk berburu kuliner.
Deretan lapak UMKM pun berjajar rapi di sepanjang kawasan taman, menawarkan beragam jajanan yang menggugah selera. Mulai dari pentol, crepes, teh tarik, telur gulung, sate taichan, hingga burger dan aneka kopi, menjadi pilihan favorit pengunjung.
Aroma makanan yang bercampur satu sama lain semakin menghidupkan suasana Taman Titik Nol malam itu. Riuh obrolan pengunjung berpadu dengan suara peralatan masak dari para pedagang, menciptakan denyut warna warni kehidupan khas akhir pekan di pusat kota.
Di tengah keramaian itu, salah satu lapak yang tampak ramai diserbu pembeli adalah Misit Burger Tenggarong. Aroma roti panggang dan daging burger menyeruak dan mengundang perhatian siapa saja yang melintas.

Lapak burger sederhana yang berlokasi di Jalan Diponegoro tersebut tampak nyaris tak pernah sepi dari antrean, terutama di malam Minggu. Ajidan, karyawan Misit Tenggarong, bersama rekannya terlihat cekatan melayani pesanan.
Tangan mereka terus bergerak menyiapkan burger, sesekali menoleh menyapa pelanggan yang datang silih berganti. Malam Minggu pun menjadi salah satu waktu paling sibuk bagi Misit Burger.
Sebagian pengunjung memilih menunggu sambil berdiri di sekitar lapak, sementara yang lainnya duduk santai di area taman, menikmati suasana ramai sembari menunggu pesanan mereka siap.
Misit Burger sendiri bukanlah pendatang baru di dunia UMKM Tenggarong. Usaha kuliner ini berdiri sejak tahun 2020. Namun, pandemi Covid-19 sempat membuat aktivitas penjualan terhenti untuk sementara waktu.
“Sempat vakum karena Covid-19, baru lanjut lagi di tahun 2024,” ujar Ajidan.

Sebelum menempati lokasi di kawasan Taman Titik Nol, Misit Burger Tenggarong awalnya berjualan secara rumahan di Jalan Imam Bonjol. Seiring waktu dan mulai pulihnya aktivitas masyarakat, lapak ini kemudian berpindah ke Jalan Diponegoro.
Buka setiap malam, kecuali malam Rabu, mulai pukul 16.00 hingga 23.30 WITA, Misit Burger hanya berjualan di Taman Titik Nol dan belum membuka cabang lain. Hanya sesekali mengikuti event-event tertentu yang digelar di dalam maupun luar kota.
Dibeberkannya, nama Misit memiliki makna dalam bahasa Kutai yang berarti keinginan untuk memiliki atau membeli sesuatu setelah melihat orang lain membelinya.
“Kalau lihat orang beli es, jadi kepingin juga. Itu namanya misit,” jelasnya.
Dalam satu malam, Misit Burger biasanya menyiapkan sekitar 50 roti. Dari jumlah itu, rata-rata 20-an roti terjual. Pada malam ramai seperti malam Minggu, omzet yang diperoleh bisa mencapai Rp800 ribu, bahkan di waktu tertentu mampu menembus angka Rp1 juta lebih.

Untuk berjualan di kawasan Taman Titik Nol, biaya yang dikeluarkan relatif ringan. Misit Burger hanya dikenakan biaya listrik sebesar Rp50 ribu per bulan, serta infak kebersihan sekitar Rp10 ribu per bulan.
Bagi Ajidan, bekerja di Misit Burger bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Ia merupakan mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), jurusan Manajemen, yang kini berada di semester lima dan akan memasuki semester enam. Anak pertama dari empat bersaudara ini memilih bekerja sambil kuliah demi membiayai pendidikannya sendiri.
“Saya memang cari penghasilan untuk bayar uang kuliah,” tuturnya.
Ia sempat menerima Beasiswa Kukar Idaman pada semester tiga dengan nilai Rp5 juta, namun untuk semester berikutnya ia harus mengandalkan penghasilan dari bekerja.
“Enggak ikut kemarin, enggak sempat,” terangnya.

Lahir pada 14 Oktober 2005 dan besar di Kampung Baru, Tenggarong, Ajidan mengaku awalnya bercita-cita melanjutkan pendidikan di jurusan Sistem Informasi. Namun, setelah tidak lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri di Samarinda, ia memilih berkuliah di Unikarta yang lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggalnya.
Pengalaman bekerja di Misit Burger diakui Ajidan, memberinya banyak pelajaran tentang dunia usaha, mulai dari pelayanan pelanggan hingga pengelolaan usaha secara langsung.
Ke depan, Ajidan berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada pelaku UMKM, terutama usaha kecil yang masih merintis.
“Masih banyak UMKM yang belum dipandang, padahal mereka juga perlu dukungan dari pemerintah. Semoga ada perhatian lebih lagi,” harapnya.
Di tengah hiruk-pikuk malam Minggu Taman Titik Nol Tenggarong, lapak Misit Burger ini menjadi gambaran semangat pelaku UMKM lokal. Dari gerobak sederhana, usaha ini tidak hanya menyajikan burger bagi warga, tetapi juga menjadi ruang belajar, kerja keras, dan harapan bagi anak muda Tenggarong untuk menata masa depan yang lebih baik lagi.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Kuliner