Motor Listrik Buatan Indonesia

Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto (dua dari kanan) saat mengikuti Tim Kunspek Komisi VII DPR RI ke P3TKEBTKE Kementerian ESDM di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/9/2021). Foto: Andri

JAKARTA.NIAGA.ASIA-Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendukung pengembangan motor listrik yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (P3TKEBTKE).

“Program ini  baik karena bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ungkap Mulyanto saat mengikuti Tim Kunspek Komisi VII DPR RI ke P3TKEBTKE Kementerian ESDM di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/9/2021).

“Ojeg online dan jasa motor di Indonesia sangat banyak, kalau inovasi ini bisa diterapkan dan masyarakat beralih ke motor listrik ini sangat luar biasa dan bisa menghemat bbm,” ujarnya.

Menurut Mulyanto, biaya perombakan motor bahan bakar bensin ke listrik masih cukup mahal, namun kalau kita buat masal mungkin biayanya bisa lebih murah.

“Jika pabrikasinya masal baik baterai maupun motornya, saya rasa bisa ditekan lebih murah biayanya,” tutur Mulyanto.

Politisi PKS ini mengatakan, DPR RI akan mendorong subsidi di tahap awal pengembangan motor listrik. Dengan begitu, diharapkan dapat menarik investor untuk melakukan pembuatan motor tersebut dalam skala besar.

“Kita tadi lihat semua pengembanganya menggunakan baterai lithium, namun sampai saat ini kita belum bisa membuat baterai tersebut padahal bahan bakunya tersedia di negara kita. Untuk itu kita mendorong terus mengembangkan riset-riset untuk bisa membuat baterai lithium yang waktu pemakaiannya lebih panjang,” tandasnya.

Menurut Mulyanto, integrasi atau peleburan lembaga litbangjirap (penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan) ke dalam BRIN, konsekuensinya penelitian di badan, kementerian dan lembaga harus menjadi satu ke dalam BRIN.

Secara teori peleburan ini tidak secepat yang diinginkan, melainkan harus bertahap. Karena dalam peleburan kelembagaan ini yang akan pindah di antaranya SDM, anggaran, hingga fasilitas dan sarana prasarana yang tentunya memerlukan waktu.

“Tidak serta merta fungsi ristek ini bisa dikerjakan oleh BRIN, minimal 3 sampai 4 tahun baru bisa berjalan baik. Kami juga mengecek langsung produk dan penemuan inovasi seperti apa yang dikembangkan Litbang P3Tek. Salah satunya mencoba motor listrik hasil inovasi dan pengambangan dari P3Tek Kementerian ESDM. Kita berharap riset-riset ini terus dikembangkan agar bisa bermanfaat bagi masyarakat,” harap Mulyanto.

Kunjungan Komisi VII DPR RI meninjau Puslitbang Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi  Energi  (P3TKEBTKE/P3Tek), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), guna memantau implementasi Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021 yang mensyaratkan seluruh lembaga riset kementerian dan lembaga akan bergabung di bawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

“Secara kelembagaan dan SDM seperti apa itulah yang kami telusuri. Peleburan menjadi BRIN tentunya tidak mudah, ada hal-hal yang memerlukan kecermatan. Dengan bergabungnya ke BRIN, kita berharap riset-riset dan penelitian yang ada jauh lebih baik dan maju,” kata Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto saat memimpin Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI.

Sumber : Humas DPR RI | Editor : Intoniswan

Tag: