Museum Kayu Tuah Himba di Tenggarong jadi Sarana Edukasi Anak di Libur Lebaran

Museum Kayu Tuah Himba. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Seiring makin banyaknya tempat wisata yang bermunculan di Kutai Kartanegara (Kukar), khususnya di Tenggarong, rupanya Museum Kayu Tuah Himba tetap dipilih sebagai destinasi wisata edukasi keluarga pada H+5 Idulfitri 1447 Hijriah.

Meski jumlah kunjungannya tidak melonjak signifikan dari tahun ke tahun, museum yang beralamat di Jalan Museum Kayu Kelurahan Panji ini tetap menjadi tujuan para wisatawan, terutama mereka yang mengutamakan nilai edukasi dengan ragam informasi tentang kekayaan kayu khas Kalimantan, khususnya bagi anak-anak.

Mardi, warga Loa Kulu, menjadi salah satu pengunjung yang sengaja memilih museum sebagai tujuan libur Lebaran. Pria berusia 45 tahun ini datang bersama keluarga besarnya, termasuk mertua dari Kalimantan Tengah (Kalteng) yang ingin melihat langsung koleksi kayu khas daerah.

“Beliau dari jauh tertarik dengan situs-situs di sini, apalagi ada buaya besar itu,” ungkapnya, Rabu (25/3/2026).

Menurut Mardi, daya tarik Museum Kayu Tuah Himba tidak hanya terletak pada koleksi unik seperti replika buaya muara, tetapi juga pada beragam jenis kayu yang dipamerkan. Hal itu dinilainya penting sebagai sarana edukasi generasi muda.

“Saya sengaja membawa anak-anak ke sini. Anak-anak jadi tahu macam-macam kayu di Kalimantan yang mungkin belum pernah mereka lihat sebelumnya,” katanya.

Udin, penjaga Museum Kayu Tuah Himba (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

Bagi Mardi, kunjungan ke museum ini bukan sekadar rekreasi, tetapi juga bagian dari upaya untuk mengenalkan sejarah serta kekayaan alam Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada keluarganya.

Namun demikian, ia berharap ke depannya agar pengelola museum dapat menghadirkan inovasi baru agar daya tariknya dapat semakin meningkat. Menurutnya, penambahan wahana atau konsep wisata yang lebih interaktif akan membuat pengunjung semakin betah.

“Kalau bisa ditambah lagi koleksinya, mungkin seperti konsep kebun binatang atau yang lebih hidup, jadi tidak hanya pajangan saja,” sarannya.

Usai puas melihat koleksi dari Museum Kayu Tuah Himba ini, Mardi bersama rombongan berencana melanjutkan perjalanan ke Museum Mulawarman dan Pulau Kumala.

“Memang tujuan kami ke museum, untuk melihat situs-situs sejarah di Kaltim,” bebernya.

Di sisi lain, pengelola Museum Kayu Tuah Himba mengakui bahwa persaingan dengan destinasi wisata lain juga menjadi tantangan tersendiri. Penjaga museum, Udin, menyebut tren kunjungan dalam beberapa tahun terakhir cenderung stagnan.

“Sekarang wisata di Tenggarong sudah banyak, jadi pengunjung terbagi-bagi. Ada yang ke wisata alam, ada juga ke tempat hiburan lainnya,” jelasnya.

Pada periode Lebaran tahun ini, Museum Kayu sempat tutup pada hari pertama. Sejak hari kedua hingga H+5, total kunjungan tercatat sekitar 200 orang.

“Kurang lebih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, masih di angka 200-an,” pungkasnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: