
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Menurunnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan naiknya harga minyak global perlu mendapat perhatian karena dapat memperlebar defisit transaksi berjalan menuju batas atas kisaran defisit 0,9% sampai dengan 0,1% dari PDB.
Dalam kaitan itu, sinergi kebijakan untuk memperkuat kinerja neraca pembayaran dan ketahanan eksternal, termasuk membangun kepercayaan investor global, akan terus ditingkatkan.
Demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo usai memimpin Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, pada 16-17 Maret 2026.
Menurut dia, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat sehingga dapat memitigasi dampak perang Timur Tengah. Neraca perdagangan pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 1,0 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Desember 2025 sebesar 2,5 miliar dolar AS akibat perlambatan permintaan dunia terhadap ekspor nonmigas.
“Aliran modal dan finansial pada Januari–Februari 2026 secara kumulatif mencatat net inflows sebesar 1,6 miliar dolar AS ditopang oleh aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),” katanya.
Pada Maret 2026, investasi portofolio mencatat net outflows sebesar 1,1 miliar dolar AS dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah.
“Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 terjaga sebesar 151,9 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” pungkas Perry.
Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan
Tag: Minyak BumiPerdagangan