Catatan Efrinaldi

Ketika aku kecil tahun 1970-an banyak sekali penyakit infeksi. Aku ingat mudah sekali luka terinfeksi dan meradang sampai keluar nanah. Bila terjatuh bisa terluka oleh benda tajam, maka luka akan meradang sampai bernanah. Makanya dapat dipastikan orang yang kecil tahun 70-an akan ada bopeng bekas luka di kakinya. Juga banyak sekali orang menderita kurap atau panu.
Tetapi kini, jarang sekali orang yang terluka akan meradang sampai bernanah. Juga jarang orang menderita panu. Sementara jarang diketahui orang menderita strook di tahun 70-an. Namun sekarang sering ditemui orang menderita strook, hipertensi, diabetes dan lain-lainnya.
Perubahan pola penyakit ini sudah diperkirakan ahli kesehatan (kedokteran dan farmasi) di tahun 80-an. Akan bergeser penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit non-infeksi (penyakit degeneratif). Perkiraan itu membuat penelitian di bidang kedokteran dan obat-obatan penyakit degeneratif sangat marak sejak tahun 80-an. Kini obat-obatan untuk penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes telah tersedia dengan efektifitas dan keamanan yang baik.
Walau penyakit infeksi menurun, penelitian dalam kedokteran dan obat-obatan infeksi tetap dilakukan. Walau infeksi di permukaan kulit menurun, namun infeksi organ lain tetap ada seperti saluran cerna dan saluran pernapasan. Tantangannya adalah mencari obat pengganti yang ampuh melawan infeksi dari kuman yang telah kebal (resisten) terhadap obat lama.
Ada penyakit infeksi yang sampai kini masih banyak diderita manusia yaitu tuberculosa. Obat anti tuberculosa yang paling maju sekarang adalah FDC for TB. Obat ini adalah kombinasi tetap beberapa obat anti tuberculosa lama. FDC for TB mulai beredar di Indonesia sejak tahun 2005.
Aku adalah peneliti pengembangan formulasi FDC for TB ketika bekerja di Kimia Farma. Obat itu menjadi obat pertama di dunia yang mutunya baik. FDC for TB dari Kimia Farma (FDC-2 dan FDC-4) sampai kini masih menjadi andalan mengobati tuberculosa di Indonesia.
Dalam hal tuberculosa telah dilakukan program pemberantasan penyakitnya dengan menyediakan obat FDC for TB sebagai obat program pemerintah. Namun, walau sudah 20 tahun sejak program pemerintah dengan pemakaian obat FDC for TB, penyakit ini masih ada di tanah air.
Seharusnya masyarakat mendukung untuk berobat begitu terkena penyakit tuberculosa ke rumah sakit pemerintah. Kalau tidak demikian, semakin banyak juga orang terinfeksi penyakit ini sebab kuman tuberculosa menular.
Baru saja viral soal pro dan kontra penggunaan obat herbal untuk tuberculosa. Kalangan medis sangat meragukan efektifitas obat herbal tersebut untuk mengatasi tuberculosa. Kalau sampai terjadi obat itu benar tidak efektif dan digunakan banyak orang yang menderita tuberculosa, maka semakin banyak orang yang tidak sembuh-sembuh dari tuberculosa, dan selanjutnya akan semakin banyak orang lain yang tertular dari penderita yang tidak diobati dengan baik itu. Maka, seyogyanya masyarakat patuh berobat memakai obat yang telah diakui secara medis dan mendapat izin edar dari pemerintah (BPOM).
*)Penulis adalah mantan Peneliti Senior Kimia Farma
Tag: KesehatanOpini