Pedagang makanan secara tradisional kehilangan pendapatan sampai 70 persen sejak adanya himbauan pembatasan keluar rumah. (Foto Intoniswan/Niaga.Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Omset pedagang makanan secara tradisional (tidak dalam jaringan-nononline) tinggal 30 persen. Mereka kehilangan omset 70 persen sejak adanya pembatasan keluar rumah terkait dengan himbauan pemerintah untuk menekan penyebaran virus corona (Covid-19).

“Saat anak sekolah diliburkan dan adanya pembatasan keluar rumah, saya kehilangan omset 30 persen, sejak pegawai juga diliburkan kehilangan omset 40 persen. Dalam dua hari terakhir tinggal 30 persen,” kata Eni yang berjualan makanan di jalan Biola, Samarinda menjawab Niaga.Asia, Kamis 26/3/2020) siang.

Menurutnya, sebelum virus corona menyebar di Samarinda, sehari dia bisa memasak nasi 4 kilogram per hari, kemudian susut jadi 2 kilogram. Dalam dua hari terakhir tinggal 1 kilogram. Atau memasak untuk 8-10 porsi per hari.

“Artinya omset saya, 8 dikalikan 20 ribu, hanya 160 ribu per hari, itu sudah maksimal,” kata Eni lagi.

Hal yang sama juga dikatakan pedagang makanan secara tradisional lainnya, Puji yang berjulan di jalan Angklung, Prevab. Puji yang berjulan “Sari Laut” hanya malam hari, juga mengeluhkan hal yang  sama. Hingga pukul 24.00 WITA atau jam 12 malam, hanya terjual paling 15 porsi, atau Rp375.000,oo.

“Sebelum ada virus corona dan himbauan tidak keluar rumah, semalam omsetnya masih bisa 45 porsi, atau habis sekitar 4 ekor ayam. Sekarang ngak habis 2 ekor ayam, atau tidak sampai 16 porsi,” kata Puji.

Keduanya sam-sama mengeluhkan, bila kondisi seperti sekarang berlanjut 10 hari lagi, maka modalnya akan terkuras habis sebab, dari penjualan sehari-hari dia tidak bisa lagi menutup keperluannya sehari-hari.

“Waktu berjualan masih ramai, kita kan ibaratnya numpang makan gratis, makan dari keuntungan berjualan, tapi sejak 10 hari lalu, ngak ada lagi untung berjualan, modal sendiri kemakan,” ujar Puji dan Eni yang ditemui terpisah.

Kedua pedagang ini juga tak lupa berdoa agar masa-masa sulit akibat adanya virus coroan cepat berlalu dan keadaan kembali normal. “Kalau aktivitas masyarakat diluar rumah kembali normal, baru dagangan kembali untung,” ungkap Eni.

Sementara pedagang makanan dalam jaringan (online), meski mengaku omsetnya naik semasa adanya himbauan masyarakat berdiam dalam rumah, tapi juga tidak seberapa, karena masyarakat yang berdiam dalam rumah, sepertinya memasak sendiri.

“Memang ada kenaikan pesananan makanan, tapi naiknya hanya sekitar 20 persen,” kata Hartati yang berjualan nasi ayam geprek  di Jalan Ahim I.(001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *