aa
Kepala Dinas Sosial Kota Samarinda, H Ridwan Tasa bersama fakir miskin penerima bantuan KPM-BPNT yang juga sekaligus pengelola Warung Kelompok Bersama “Sri Rejeki” di Kelurahan Sidomulyo Samarinda. (Foto Dinas Sosial Samarinda)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Omset 25 warung fakir miskin yang disebut dengan E-Warung Kube (Kelompok Usaha Bersama) di Kota Samarinda sepanjang tahun 2018 menembus angka Rp24,156 miliar lebih. Omset itu berasal dari 18.300 orang miskin yang setiap bulannya menerima bantuan dari Kementerian Sosial sebanyak Rp110.000/bulan atau Rp13.200.000 per orang per tahun dan masyarakat sekitarnya.

Kepala Dinas Sosial Kota Samarinda, H Ridwan Tasa mengatakan itu kepada Niaga.Asia, Rabu (30/1). “Ini tahun pertama dari Warung Kube. Pantauan kami di lapangan semua warung kondisinya bagus, termasuk pencatatan keuangannya,” ujarnya.

Menurut Tasa, Warung Kube adalah warung yang dikelola fakir miskin. Setiap 1 warung dekelola 10 fakir miskin. Sebanyak 25 Warung Kube tersebar di 59 kelurahan dikelola 250 fakir miskin. Pengelola Warung Kube  yang berasal dari fakir miskin itu sebelum sudah mempunyai bakat berdagang, kemudian dilatih dan diberi modal oleh Kementerian Sosial. “Satu Warung dimodali Rp35 juta. Ini program bantuan sekaligus pemberdayaan, dan pengembangan usaha,” ungkapnya.

Omset Warung Rp24,156 miliar itu berasal dari 18.300 fakir miskin juga, karena bantuan yang diberikan Kemensos bukan uang tunai, tapi uang elektronik yang hanya bisa digunakan untuk membeli sembako kalau digesek di alat yang ada di Warung Kube. “Fakir miskin yang mendapat bantuan Rp110 ribu per bulan itu, kata Tasa, adalah fakir miskin yang diakomodir dalam program KPM (Keluarga Penerima Manfaat) untuk BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai),” ujarnya. “Omset Warung Kube, selain dari sesama fakir miskin penerima BPNT, juga dari masyarakat sekitarnya. Jadi omsetnya bisa lebih rai Rp24,156 miliar,” katanya.

Model bantuan pangan non tunai untuk fakir miskin yang dijalankan sekarang ini, lanjut Tasa, diharapkan nanti bisa mengentaskan orang miskin secara bertahap. Misalnya setelah mengelola warung beberapa tahun, tidak lagi menjadi fakir miskin. (001)

 

 

               

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *