
SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, resmi dihentikan sementara.
Keputusan itu diambil menyusul insiden dugaan keracunan massal 25 siswa lintas jenjang sekolah, mulai dari SD hingga SMA, usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu 11 Februari 2026 lalu.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin menerangkan, Pemprov Kalimantan Timur mendukung penuh program MBG yang telah berjalan selama setahun terakhir untuk menekan angka stunting. Namun, aspek keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
“Ada kendala yang harus diantisipasi, salah satunya laporan keracunan yang diduga bersumber dari cara pengolahan makanan yang tidak sesuai prosedur,” kata Jaya, ditemui di kantornya Jalan AW Sjahranie, Samarinda, Jumat 13 Februari 2026.
Meski belum menerima laporan tertulis secara formal dari Dinas Kesehatan PPU, Dinkes Kaltim telah bergerak cepat melakukan koordinasi bersama dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Hasilnya, surat penghentian sementara operasional SPPG Waru telah diterbitkan demi kepentingan investigasi mendalam.
“Sudah ada surat penghentian SPPG sementara di Kecamatan Waru PPU,” ujar Jaya.
Saat ini, tim medis dan ahli epidemiologi tengah mengumpulkan sampel untuk diuji di Laboratorium Kesehatan (Labkes) Provinsi atau Labkes Kota Balikpapan. Proses ini mencakup pemeriksaan sisa makanan hingga sampel biologis dari para korban.
“Dinkes Kaltim akan memeriksa sampel makanan, bahan baku, hingga sisa muntahan korban untuk mendeteksi keberadaan bakteri patogen. Pemeriksaan ini melalui proses kultur bakteri, sehingga hasilnya baru bisa diketahui dalam waktu 3 hingga 4 hari ke depan,” jelas Jaya.
Dinkes Kaltim juga menyoroti ketersediaan
Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, di PPU sendiri sudah hampir 70 persen SPPG telah mengantongi SLHS.
Terkait dugaan penyebab keracunan, muncul indikasi bahwa menu puding yang dipasok oleh pihak ketiga yakni pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi pemicunya. Jaya memastikan produk itu juga masuk dalam daftar pengujian laboratorium.
“Nanti kita akan lihat juga hasilnya dari produk ini. Kita akan mencari bakteri patogen, seperti Streptococcus, E-coli, dan bakteri lainnya yang sering dihubungkan dengan keracunan,” sebut Jaya.
Keputusan pembukaan kembali SPPG Waru nantinya akan bergantung sepenuhnya pada hasil evaluasi BGN. Jika ditemukan kesalahan prosedur yang fatal, pemerintah akan melakukan koreksi total dan pengawasan ketat sebelum pelayanan diaktifkan kembali demi menjamin keselamatan para siswa.
“Tugas kita melakukan pengawasan dan memastikan mereka memiliki sertifikasi,” demikian Jaya Mualimin.
Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi
Tag: KaltimkeracunanMakan Bergizi GratisPenajam Paser Utara