Alat Imunoflouresensi Assay yang didatangkan dari Korea Selatan digunakan di Samarinda. Hasilnya diklaim mendekati hasil PCR. (Foto : istimewa/Dinkes Samarinda)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kalimantan Timur, mengingatkan mesti berhati-hati menyikapi hasil rapid test, dan tidak percaya begitu saja. Ada 4 kemungkinan yang bisa dihasilkan dari uji cepat Rapid Test Diagnostic (RDT).

Pertama, hasil rapid test reaktif atau positif, adalah reaktif yang sebenarnya dan hasil sama dengan hasil uji sampel swab menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction)

Kedua, hasil reaktif tidak sebenarnya. Ini juga sama dengan hasil pengujian melalui PCR.

Ketiga, ada hasil reaktif palsu. Dimana, hasil rapid ini, kemungkinan berlawanan hasilnya dengan yang diuji sampel swab, menggunakan PCR

Keempat, ada hasil tidak reaktif/negatif palsu. Ini juga akan berlawanan dengan hasil dari uji swab PCR.

“Sebab, ada beberapa kasus yang terkonfirmasi (positif terjangkit), sebelumnya dari rapid test tidak reaktif atau negatif. Untuk itu, kita benar-benar menyikapi haeil dari rapid test ini,” kata Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Kalimantan Timur Andi M Ishak, Kamis (7/5).

Andi menerangkan, dalam memanfaatkan teknologi, apabila salah dalam pemanfaatan, akan berdampak luas saat mengambil kebijakan atau keputusan dalam rangka pelayanan kesehatan.

“Bisa berdampak dihentikannya pelayanan kesehatan, karena petugas kesehatan harus dikarantina,” ungkap Andi.

Dijelaskan Andi, penggunaan RDT memang mudah digunakan dalam keseharian. “Namun kalau tidak punya pemahaman yang baik terhadap Covid-19, tentu tidak sesuai harapan saat ini, melihat dari hasil rapid test.

“Karena kemungkinan dari hasil rapid test itu ya ada 4 tadi yang saya sebutkan. Untuk itu, menjadi sangat penting tracing dari mereka pelaku perjalanan dari daerah terjangkit, maupun dari daerah transmisi lokal,” demikian Andi. (006)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *