Pamor Mal Lembuswana Samarinda Semakin Pudar, Pedagang Bertumbangan

Kondisi kios lantai 3 Mal Lembuswana Samarinda sudah banyak yang tutup. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Pusat perbelanjaan legendaris di Samarinda, Mal Lembuswana, tengah berada di titik nadir. Sempat berjaya sejak tahun 1998 lalu, kini mal tertua di Samarinda itu harus menghadapi kenyataan pahit. Banyak kios yang gulung tikar, terutama di lantai tiga, yang ditinggal penyewanya.

Pantauan di lokasi pada pertengahan Februari 2026 ini menunjukkan suasana yang sangat kontras dengan masa keemasan mal itu.

Lorong-lorong di lantai paling atas lantai tiga yang dulu padat oleh para pencari telepon genggam dan aksesorisnya, kini hanya menyisakan deretan kios yang terkunci rapat. Di lantai ini hanya tersisa Matahari Department Store, tempat bermain anak Kids Zone dan arena bombomcar.

Salah satu penyebab meredupnya pamor Mal Lembuswana adalah menjamurnya pusat perbelanjaan baru yang menawarkan fasilitas lebih modern dan lengkap.

Seperti hadirnya Samarinda Central Plaza di 2001 lalu, disusul dengan kemegahan Bigmall Samarinda pada 2014, perlahan namun pasti menarik minat warga dari mal lama ke tempat yang lebih segar.

Kemudian fasilitas hiburan seperti bioskop modern yang tidak dimiliki Mal Lembuswana membuat daya tarik pengunjung berkurang. Akibatnya, mal di Jalan Letjend S. Parman Samarinda itu perlahan mulai ditinggalkan pelanggannya.

Salah satu pedagang aksesoris telepon genggam yang telah berjualan sejak 2014, Lisianto, menceritakan bagaimana kondisi penjualan yang tidak begitu ramai saat ini.

Untuk dapat berjualan di sana, dia harus merogoh gocek Rp5,6 juta per bulan. Angka itu lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Bisnis Ponsel lesu dan daya tarik Mal Lembuswana semakin pudar menjadikan mal tertua itu semakin ditinggalkan pengunjung. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

“Jauh sekali perbedaan ramainya. Dulu saya jualan di lantai tiga, sekarang sudah tidak ada lagi yang berjualan di sana. Kosong semua. Akhirnya saya memutuskan untuk turun dan berjualan di lantai dua,” kata Lisianto ditemui Rabu 11 Februari 2026.

Menurut Lisianto, bisnis penjualan Ponsel tertekan sejak pandemi COVID-19 di 2020 lalu. Toko-toko Ponsel yang menjadi magnet utama penarik pengunjung di lantai tiga mulai bertumbangan satu per satu.

“Dulu ramai sekali Lembuswana ini. Nah dia mulai sepi pas COVID-19 itu,” ujar Lisianto.

Selain itu, kehadiran pusat perbelanjaan modern lainnya di Samarinda yang dilengkapi dengan gedung bioskop dan fasilitas hiburan terkini, juga membuat Mal Lembuswana kehilangan daya tariknya.

“Agak ngaruh juga banyaknya mal-mal lain yang ada bioskopnya. Jadi di Lembuswana ini kurang daya tarik,” terang Lisianto.

Jika dibandingkan dengan masa awal dia berjualan di tahun 2014, Lisianto menyebut penurunan jumlah pendapatan mencapai hingga 70 persen.

Walaupun pendapatan saat ini jauh lebih baik dibandingkan masa COVID-19 lalu, namun angka tersebut tetap tak sebanding dengan era keemasan dulu.

“Kalau bisa dibilang penurunan omset di sini 70 persen dibanding 2014. Tahun ini bulan Juli, kabarnya sudah habis masa pakai Lembuswana ini,” demikian Lisianto.

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: