Pandemi COVID-19 Mengubah Pola Belanja Masyarakat

ilustrasi

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Pandemi COVID-19 yang merebak sejak bulan  Maret 2020 dan adanya pembatasan sosial aktivitas  (social distancing) ternyata mengubah pola belanja masyarakat, dari yang semula bersifat langsung, menjadi tidak langsung, atau menggunakan perantara penjual jasa dan pembayaran secara digital.

“Awal April memang terjadi penurunan omset penjualan, tapi mulai awal Mei malahan meningkatkan karena pesanan lewat gofood naik,” kata Arini, pedangang kuliner ayam geprek di Sempaja Timur pada Niaga.Asia, Selasa (25/8/2020).

Yusuf, driver GoJek juga mengatakan hal senada bahwa, pesan antar orang saat ini masih jauh dari normal, atau seperti sebelum adanya pandemi COVID-19, sehingg a yang jadi andalannya sekarang untuk dapat uang pada jasa antar jemput makanan.

“Sehari dapat antara 5-9 orderan makanan,” ungkap Yusuf.

Untuk urusan pembayaran, sejak pandemi COVID-19, masyarakat juga jadi terbiasa dengan sistem pembayaran nontunai, baik untuk pembayaran listrik dan air bersih, termasuk pembelian pulsa dan pulsa data akibat kebijakan work from home an belajar dari rumah (BDR).

“Terjadi peningkatan aktivitas belanja secara online,”  kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, Anggoro Dwitjahyono dalam rilisnya yang disampaikan secara virtual, Rabu (5/8/2020).

“Pendorongnya aanya penutupan sementara pusat perbelanjaan selama panemi COVID-19,” katanya, seraya menambahkan, pola konsumsi masyarakat cenderung berubah di Triwulan II (April-Juni) 2020 dibandingkan Triwulan II-2019 akibat adanya pandemi COVID-19.

Menurut Dwi, sepanjang masa pandemi COVID-19 juga terjadi peningkatan traffict data internet dan penambahan permintaan sambungan internet akibat kebiajakan belajar berbasis daring (e-learning), layanan bekerja/meeting conference, an layanan hiburan seperti streaming.

Sektor Paling Terpukul

Meski pengusaha di sektor kuliner masih bisa cukup bernapas selama pandemi COVID-19, tapi sektor pariwisata dan transpostrasi, paling terpukul. Jumlah kunjungan wisatawan menurun tajam sejak bulan Maret 2020, bahkan hingga Triwulan II-2020, BPS mencatat wisatan mancanegara yang datang ke Kaltim mengalami penurunan sebesar 93,41 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

“Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Triwulan II-2020 mengalami penurun jika dibandingkan periode Triwulan I-2020,” kata Dwi.

Selama pembatasan aktivitas sosial diluar rumah, jumlah penumpang angkutan udara domestik periode Januari-Juni 2020 mengalami penurunan sebesar 46,01 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

“Selama periode April – Juni 2020, tida terdapat penerbangan internasional yang datang ke Kaltim. Bahkan, Banara SAMSS, Bandara Kalimarau, Bandara APT Pranoto ditutup sementara selama pandemi COVID-19.

Selama pandemi, aktivitas perdagangan mengalami penurunan, seperti penurunan penjualan alat tulis kantor dan seragam, serta BBM (Bahan Bakar Minyak), aktivitas jajaran terkena larangan beraktivitas. (adv)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *