Pandemi, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa Turun Lagi di Triwulan II 2020

Kepala Perwakilan BI Kalimantan Timur Tutuk SH Cahyono saat konferensi pers virtual, Selasa (12/5). (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur, melakukan kajian ekonomi Kaltim untuk triwulan II 2020. Diperkirakan, di tengah pandemi, pertumbuhan ekonomi berpotensi turun lagi dengan beragam faktor penyebab.

Dalam kajian BI, perekonomian global di April 2020 lalu, masih tetap sama di bulan berikurnya. Dimana, perekonomian dunia, mengalami penurunan, bahkan kontraksi pertumbuhan ekonomi.

“Tiongkok (indeks 1,2) bahkan sekarang kontraksi, sudah minus cukup dalam. Pun demikian dengan India, yang lagi menerapkan lockdown,” kata Kepala Perwakilan BI Kalimantan Tutuk SH Cahyono, saat konferensi pers virtual, Selasa (12/5).

Episentrum pandemi Corona, saat ini masih berada di Amerika, dan negara-negara Eropa. Belakangan, negara yang melonggarkan lockdown, memiliki masalah.

“Jadi pertumbuhan ekonomi, sangat dipengaruhi Covid-18. Mendorong ketidakpastian dalam berbagai hal. Dalam hal ini, pemerintah, melakukan kerjasama antara bank sentral,” ujar Tutuk.

Sederetan upaya itu antara lain, melakukan pelonggaran likuiditas. “Dari sisi pemerintah, melakukan upaya stimulus fiskal, dan sektor riil. Sektor riil itu di fiskal, itu hanya terkait moneternya. Dua-duanya mencoba memberikan kelonggaran-kelonggaran stimulus,” tambah Tutuk.

Tutuk menerangkan, di triwulan I 2020, pertumbuhan ekonomi turun drastis. Dimana, yang paling tertekan di masa pandemi saat ini, adalah sisi konsumsi, dan investasi.

“Porsi konsumsi swasta nasional itu kan 50 sekian persen, cukup tinggi. Jadi dengan turunnya komponen konsumsi, maka dia bisa menurunkan cukup drastis terhadap total pertumbuhan eko nasional. Dari 5,02 menjadi 2,92 itu cukup,” ungkap Tutuk.

“Satu-satunya yang ckp membantu adlh konsumsi pemerintah. Melalui stimulus-stimulusnya bisa tumbuh 3,74. Tapi ingat, meski kita rendah 2,97, negara lain sudah kontraksi. Jadi, kita bersyukur Indonesia masih hampir 3. Triwulan II turun lagi,” tambah Tutuk.

“Kalau Covid-19 bisa diatasi, maka kemungkinan (pertumbuhan) masih positif di 2020. Di 2021, apabila vaksin berhasil ditemukan, akan meningkat lagi secara nasional,” ungkap Tutuk.

Dijelaskan Tutuk, di Indonesia, ada 2 andalan penerimaan terbesar devisa negara yaitu ekspor non migas, dan pariwisata. “Konsumsi mengalami tekanan luar biasa. Keyakinan konsumen juga turun,” jelas Tutuk.

“PDRB 3,9 hampir 4 karena ada stimulu-stimulus. Mulai 1 sampai jilid 3. Kita masih tunggu stimulus berikutnya, karena pemerintah sekarang ini trus melakukan kebijakan lanjutan,” sebutnya.

Kebijakan Bank Indonesia

Tutuk menerangkan, BI pun sudah melonggarkan paling tidak likuiditas, dengan menginjeksi likuiditas ke perbankan dalam jumlah Rp500 triliun lebih. Bentuknya, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dr pasar sekunder. Misal bank menjual SBN ke BI untuk dibeli lagi nanti, dan bank mendapatkan rupiahnya dr BI. “Itu Rp137 triliun,” sebut Tutuk.

Angka inflasi di Kaltim di bulan April, menurut Tutuk masih kategori baik -0,15 dan disimpulkan, tekanan inflasi saat ini masih kategori rendah. “Tapi memang kurang bagusnya, harga-harga di tingkat produsen petani, sebwgian juga turun. Dampaknya ke kesejahteraan masyarakat kecil. Daya beli juga turun,” jelas Tutuk.

Kaltim di triwulan I tumbuh 1,27 yang masuk kategori melambat. Sebab, pada triwulan IV 2019 lalu mencapai 4,77. Pelambatan itu, disebabkan terjadinya kontraksi pertambangan. “Bisa dilihat, untuk tambang porsi masih besar 44,18 persen. Bisa dibayangkan pertumbuhan cuma minus kontraksi -0,48,” bebernya.

“Untungnya industi pengolahan cukup bagus, seperti pupuk dan minyak. Seperti triwulan I minyak turun drastis, kita impor banyak. Pupuk cukup banyak dari permintaan dunia. Perlu diperhatikan, pertumbuhan kita masih positif, tapi melambat. Jadi memang, mau tak mau kedepan percepatan transformasi ekonomi itu mutlak,” ungkapnya lagi.

Sebagai gambaran, Kaltim masih sangat tergantung dengan harga batubara acuan, dan bergerak sangat fluktuatif. Misal dari tahun 2011 tinggi, 2015 turun lagi, dan 2017 kembaki naik. Sekarang, tren batubara kembali turun.

“CPO (Crude Palm Oil) juga masih turun. Awal tahun kemarin, harga CPO sedang tinggi tapi saat ini sedang di bawah. Itu persoalan jangka pendek, dan jangka panjang di Kaltim,” demikian Tutuk. (006)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *