Pansus LKPJ Gubernur 2020 Sampaikan Kesimpulan

Pansus LKPJ Gubernur Kaltim Tahun 2020 saat menyampaikan kesimpulannya dalam rapat Paripurna ke-11 di gedung D lantai 6,  Senin (3/5/2021). (Foto Muhammad Fahrurozi/Niaga.Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Pansus LKPJ Gubernur Kaltim Tahun 2020 secara umum menilai bahwa kinerja Pemerintah Provinsi Kaltim tiga tahun terakhir sangat jauh dari visi dan misi menuju “Kaltim Berdaulat”.

Hal itu Pansus saat menyampaikan kesimpulannya dalam rapat Paripurna ke-11 di gedung D lantai 6, dengan agenda  Penyampaian Rekomendasi Panitia Khusus Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Gubernur Kaltim tahun 2020, Senin (3/5/2021).

“Pansus juga melihat kepemimpinan Isran-Hadi sebagai gubernur dan wakil gubernur Kaltim hanya sedikit keberhasilannya  yang bisa dibanggakan. Hingga pertengahan 2021, hampir belum ada kinerja Isran-Hadi yang bisa dikatakan cukup memuaskan. Utamanya terkait dengan  janji-janji politiknya,” kata anggota Pansus, Rusman Yaq’ub yang membacakan laporan Pansus.

Banyak sekali persoalan pembangunan di Kaltim yang tidak maksimal dan tidak tuntas.Kinerja pemerintah terus menurun. Banyak sekali masalah yang muncul dari pertambangan. Kemudian pertumbuhan ekonomi Kaltim minus 4,61 persen.

“Pembangunan seolah jalan di tempat. Tingkat pengangguran terbuka juga semakin besar. Kaltim bahkan masuk 10 besar dengan angka pengangguran terbesar di Indonesia,” papar Rusman.

Hal senada juga diutarakan anggota Pansus LKPj Gubernur Kaltim, Sutomo Jabir. Politikus muda Partai PKB ini menyampaikan, ada beberapa rekomendasikan pansus yang bisa dikatakan cukup krusial. Salah satunya yakni buruknya tata pengelolaan pemerintahan yang dilaksanakan Isran-Hadi.

Imbasnya terlihat pada sisa lebih pembiayaan anggaran (SILPA) dari tahun ke tahun yang kian besar. Ini tandanya OPD tidak maksimal dalam menyusun program kerja. Dari tata pelaksanaan pemerintahan,  pemerintahan sangat tidak efektif. Perlu segera dilakukan evaluasi mendalam di jajaran OPD lingkup Provinsi.

“SILPA yang cukup besar terjadi di hampir setiap tahunnya. Pada tahun 2020 misalnya, SILPA Kaltim mencapai Rp2,9 triliun. Artinya, Kaltim ada duitnya. Tapi tidak dapat dimanfaatkan dengan baik,” urai Sutomo Jabir sembari menutup.

Penulis : Muhammad Fahrurozi | Editor : Intoniswan

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *