Pasar Pagi Baru di Samarinda Tuai Pujian, Masalah Sampah Jadi Catatan

Pasar Pagi Samarinda sudah ramai dikunjungi pembeli, Minggu 18 Januari 2026. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Wajah baru gedung Pasar Pagi Samarinda di Jalan Gajah Mada yang rampung dikerjakan sejak akhir 2025 lalu, direspons positif para pedagang maupun pengunjung. Mereka kagum dengan konsep Pasar Pagi yang lebih modern dan tertata rapi ketimbang sebelumnya.

Proses pembangunan ulang Pasar Pagi itu sejatinya telah dimulai sejak 2024 lali. Meski operasional bangunan baru pasar itu belum diresmikan Pemkot Samarinda, namun aktivitas ekonomi saat ini sudah berjalan.

Minggu 18 Januari 2026, tidak sedikit Ruko penjual yang buka dan mendatangkan dagangannya. Sementara pengunjung juga mulai berdatangan untuk melihat wajah baru pasar pagi, sekaligus berbelanja.

Dari pantauan niaga.asia, terlihat di lantai 3 dan 4 tampak ramai pedagang yang didominasi penjual pakaian, mulai berjualan. Di sisi lain, belum terlihat aktivitas pedagang ikan maupun ayam.

Salah satu pedagang di lantai tujuh, Masudah pemilik toko Aghist Jaya bilang, lapak atau kios yang disiapkan pemerintah kini jauh lebih luas dan nyaman dibandingkan bangunan lama Pasar Pagi.

Di tahap awal ini kios yang buka masih didominasi pedagang pakaian jadi. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

“Seluruh petak Ruko sangat bagus mulai lantai satu hingga tujuh fasilitasnya lengkap. Sirkulasi udara juga lancar di setiap Ruko, tidak terasa pengap,” kata Masudah kepada niaga.asia.

Pedagang yang sudah berjualan pakaian dalam dan perlengkapan pria dan wanita mulai anak-anak hingga dewasa sejak tahun 2000 itu menilai pemerintah sangat serius dalam memanjakan masyarakatnya. Keberadaan tangga berjalan (eskalator) dan lift, menjadi nilai tambah gedung baru Pasar Pagi.

“Fasilitas ini sangat memudahkan, mulai dari anak-anak hingga Lansia bisa naik dengan nyaman sampai ke lantai tujuh. Bahkan di sini juga ada area atap terbuka (rooftop) yang bisa dinikmati,” ujar Masudah.

Menurut Masudah, keramaian pengunjung gedung baru Pasar Pagi mulai terasa sejak seminggu yang lalu. Lapak yang disediakan pun difasilitasi Pemkot Samarinda secara cuma-cuma tanpa biaya sewa.

Adapun ukuran kios yang disiapkan untuk pedagang pasar pagi ini berbagai macam. Mulai dari ukuran 1,5 x 1,2 meter, 2×2 meter, 2×3 meter hingga 4×4 meter.

Masudah (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Dalam satu lantai tersedia sepuluh kios dengan ketentuan lantai satu difungsikan khusus sebagai area parkir kendaraan, lantai 2 pedagang kebutuhan pokok dan barang harian, serta pedagang basah seperti daging, ayam, ikan, sapi, serta sayur-sayuran.

Lantai 3 diisi oleh pedagang kosmetik, sepatu dan sandal, aksesoris, jilbab, serta pelaku usaha konveksi. Lalu lantai 4 buat aktivitas perdagangan didominasi oleh penjual emas, konveksi, tas, serta makanan.

Sedangkan lantai lima hingga lantai tujuh, sebagian besar diperuntukkan bagi pedagang konveksi dan usaha sejenis.

“Tidak ada bayar membayar kiosnya semua gratis. Semisalnya ke depannya ada retribusi, tidak masalah untuk menunjang kebersihan. Terpenting tidak memberatkan pedagang,” ujarnya.

Selain menjual pakaian dalam, toko ini juga menjual baju harian wanita seperti daster dan lainnya secara partai dan grosir.

“Di sini melayani pembelian setengah lusin dan lusinan untuk kualitas dipastikan bagus dengan harga bersahabat,” terang Masudah

Respons Pengunjung Pasar Pagi

Tidak hanya pedagang saja yang menikmati tampilan dan konsep baru dari gedung pasar pagi Samarinda. Tanggapan yang sama juga disampaikan para pengunjung.

Ninu (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Warga Loa Janan, Ninu, 50 tahun menerangkan, dia sengaja datang setelah melihat informasi di media sosial bahwa pasar pagi telah dibuka.

“Tadi habis dari toko Anda cari jilbab, terus ke sini mencari kain. Tapi tadi saya lihat belum banyak ruko yang buka,” kata Ninu.

Sebagai guru kursus menjahit rumahan, dia memang sudah sejak lama mengandalkan Pasar Pagi untuk mencari bahan kain. Dia melihat bentuk baru pasar pagi ini lebih canggih dan rapih.

“Canggih banget di sini, tertata rapi penjual sayur dan pakaian dibedakan,” ungkap Ninu.

Terkait sistem parkir nontunai menggunakan kode respons cepat (QRIS) atau kartu pembayaran elektronik lainnya, Ninu pun mengaku tidak keberatan.

“Tidak apa-apa.bayar non tunai. Bagi saya tidak masalah. Mungkin ada juga masyarakat yang kesulitan karena tidak biasa menggunakan elektronik dan terbiasa tunai. Kalau yang biasa bayar tunai bisa bawa anaknya yang lebih paham kalau datang ke sini,” terang Ninu.

Pengunjung mulai berdatangan untuk berbelanja di Pasar Pagi. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Meskipun sudah lebih bagus, Ninu memberikan sedikit catatan agar ke depannya Pasar Pagi ini lebih baik lagi. Misalnya soal ketersediaan tempat sampah pengunjung pasar.

“Tempat sampah ini disendirikan dan dibedakan sampah organik dan non organik agar baunya tidak tercampur,” saran dia.

“Terus juga disiapkan tempat untuk pembuangan sampah-sampah organik untuk sayur-sayur busuk biar tidak berceceran. Seperti pasar di Korea, pasar di China tertata rapi semua,” demikian Ninu.

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: