Pasar Sentral Nunukan Atapnya Bocor, Kayu Jabuk dan WC Buntu

Keadaan pasar sentral inhutani Nunukan (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Sejumlah pedagang Pasar Sentral Inhutani Nunukan, Provini Kalimantan Utara mengeluhkan tidak adanya perhatian pemerintah daerah terhadap pasar yang mulai terlihat kumuh dan mengalami kerusakan parah dimana-mana.

“Atapnya bocor-bocor, kalau hujan basah pedagang, makanya banyak terpal  terpasang disana,” kata Ketua RT 10 Jalan Hasanuddin Kelurahan Nunukan Utara, Effendi Ansar pada Niaga.Asia, Senin (08/03).

Pasar sentral Inhutani adalah pasar yang dibangun Pemerintah Nunukan sebagai pengganti atau penampung pedagang eks kebakaran pasar Beringin tahun 2002. Lokasi pasar sendiri awalnya sawmill perusahaan kayu milik PT Inhutani Nunukan.

Pusat perbelanjaan tradisional ini menampung lebih 400 pedagang, yaitu  pedagang sayuran, ikan, rempah-rempah dan sembako. Di pasar ini pedagang-pedagang kecil  mengambil barang untuk dijual kembali.

“Makanya dinamakan pasar sentral, karena sebagian pedagang disini agen-agen penyalur ke pasar lainnya,” ucapnya.

Meski dikatakan pasar sentral dengan perputaran uang cukup besar, kondisi pasar Inhutani sangat tidak nyaman karena fisik bangunan rusak termakan usia  dan kumuh.

Kerusakan terparah, kata  Effendi, berada dibagian pasar sayuran, rempah dan ikan. Beberapa lembar seng atap lepas berjatuhan, sedangkan dibagian lainnya kayu-kayu penyangga tiang bangunan jabuk termakan usia.

“Pasar sayuran paling padat, kalau musim hujan basah semua pedagang, belum lagi jalan masuk ke pasar kecil karena semakin banyak jumlah pedagang,”ungkap Effendi.

Tidak hanya soal kerusakan bangunan pasar, pedagang sering kesulitan disaat hendak buang air kecil dan besar, karena bangunan WC yang berdiri dibagian samping pasar tidak lagi dapat digunakan karena sudah buntu.

WC dan kamar mandi ditutup  lantaran septic tanknya sudah penuh.

“Septic tank meluap naik keatas, karena bau tidak enak, pedagang penutupnya dan sudah lama dilakukan itu,” terangnya.

Minta Pemkab Peka

Memanggapi persoalan ini, anggota DPRD Nunukan, Adama meminta Pemkab Nunukan peka terhadap keluhan pedagang pasar sentral, disana ada pedagang setiap harinya membayar pajak retribusi pelayanan pasar sebesar Rp 1.000 x 400 pedagang total Rp 400.000 perhari

“Kalau dihitung pajak Rp 400.000 sehari x 30 hari/bulan = Rp 12 Juta perbulan, kenapa uang pendapatan itu tidak dibangunkan pasar lagi,”  kata Adama.

Dikatakan Adama, lahan pasar sentral adalah milik PT Inhutani yang dipinjam pemerintah untuk keperluan bangunan pasar. Karena berstatus pinjam inilah, pedagang merasa kuatir suatu saat lahan diambil pemiliknya.

Apalagi muncul kabar bahwa pinjam pakai lahan telah habis sejak tahun 2019, dan belum ada perjanian terbaru antara pemerintah dan Inhutani terkait perpanjangan memanfaatan lahan untuk pasar.

“Tolonglah diperjelas status pasar itu, kalaupun tidak diperpanjang lagi, carikan lahan baru untuk pedagang beraktifitas,” pungkasnya. (002)

Tag: