Reuni 212.
Umat muslim mengikuti aksi reuni 212 di Monas, Jakarta, Minggu (2/12/2018). (Foto ANTARA)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Pasca reuni 212, elektabilitas kedua capres (Jokowidodo-KH Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi) tidak banyak berubah dan cenderung stagnan. Survei LSI (Lingkar Survei Indonesia) Denny JA Desember 2018 menunjukkan bahwa elektabilitas Joko-Ma’ruf sebesar 54,2%, sementara elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 30,6%.

Demikian salah satu temuan survei  LSI Denny JA dalam rilisnya yang diterima Niaga.Asia, Kamis (20/12/2018). Survei dilakukan pada tanggal 5-12 Desember 2018 di 34 Provinsi di Indonesia,  menggunakan 1200 responden dengan metode multistage random sampling. Wawancara dilakukan secara tatap muka menggunakan kuesioner. Margin of error  survei ini lebih kurang 2,8%. Selain survei, LSI Denny JA juga melakukan riset kualitatif dengan medoted FGD (Fokus Group Discussion),  analisis media, dan indepth interview untuk memperkaya analisa survei. Survei dibiayai sendiri oleh LSI Denny JA.

Sebelum reuni 212, survei lSI Denny JA pada Nopember 2018 menunjukkan bahwa elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 52,2%, sementara elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 31,2%. “Mengapa reuni 212, tidak banyak mengubah elektabilitas kedu capres? Survei menemukan bahwa ada 5 (lima) alasan, mengapa reuni 212 tidak punya efek elektoral yang signifikan,” kata Peneliti di lembaga survei Lingkar Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Fadhli Fakhri Fauzan.

Alasan Pertama; mayoritas pemilih yang suka dengan  reuni 212 sudah memiliki sikap yang sulit dipengaruhi oleh Habib Rizieq Shihab, terutama terkait soal NKRI bersyariah dan seruan ganti presiden. Terkait seruan untuk mewujudkan NKR bersyariah, dari mereka yang menyatakan suka dengan reuni 212, sebesar 83,2% menyatakan lebih pro dengan konsep NKRI yang berdasarkan Pancasila saat ini. “Hanya sebesar 12,8% dari mereka yang suka dengan reuni 212 yang menyatakan pro dengan NKRI bersyariah,” kata Fadhli.

Seruan Habib Rizieq Shihab untuk ganti presiden atau ingin presiden baru juga tidak semua diamini oleh pemilih yang menyatakan suka dengan reuni 212. Dari mereka yang menyatakan suka dengan reuni 212, sebesar 43,6% menyatakan milih pasangan Jokowi-Ma’ruf. Sementara sebesar 40,7% dari mereka yang menyatakan  suka dengan reuni 212 menyatakan memilih pasangan Prabowo-Sandi.

Alasan Kedua; paca reuni 212, ada sebagian pemilih yang datang ke Prabowo-Sandi. Namun ada sebagian pemilih yang pergi dari pasangan Prabowo-Sandi. Pemilih yang mengaku berafiliasi dengan FPI dan PA 212, terjadi peningkatan suara signifikan dari pasangan Prabowo-Sandi. Di pemilih yang mengaku berafiliasi dengan FPI, pada Nopember 2018, yang mendukung Prabowo-Sandi. Pasca reuni reuni 212, meningkat menjadi 74,8%. Sementara mereka yang berafiliasi dengan PA 212, pada Nopember 2018 yang mendukung Prabowo-Sandi sebesar 70,4%, naik menjadi 82,6% pada Desember 2018.

“Sementera dukungan Prabowo-Sandi di pemilih yang berafiliasi dengan NU, Muhammadiyah dan pemilih yang menyatakan tak berafiliasi dengan oramas manapun mengalami penurunan. Di pemilih NU, pada Nopember 2018, dukungan kepada Prabowo-Sandi sebesar 30,2%, pasca reuni turun menjadi 28,6%. Di pemilih yang yang menyatakan tak berafiliasi dengan ormas manapun, sebelum Nopember yang mendukung Prabowo-Sandi 33,1%, pasra reuni turun menjadi 30,8%,” ungkap LSI Denny JA.

aa
Reuni 212 tidak menggerus elektabilitas Jokowi. (Foto KOMPAS)

Alasan Ketiga; kepuasan terhadap kinerja Jokowi secara umum masih tinggi. Survei LSI Denny JA Desember 2018 menunjukkan bahwa mereka yang menyatakan puas mencapai 72,1%, atau naik dibandingkan sebelum reuni 212, atau Nopmeber sebesar 69,4%. “Artinya bahwa reuni 212 tidak banyak mempengaruhi kepuasan publik terhadap Jokowi,” terang Fadhli. “Dalam perilaku pemilih, petahana yang dinilai baik kinerjanya akan memperoleh berkah elektoral”.

Alasan Keempat; Ma’ruf Amin menjadi jangkar Jokowi untuk pemilih muslim. Masuknya Ma’ruf Amin sebegai cawapres Jokowi hingga saat ini memang tidak banyak menaikkan elektabilitas Jokowi, namun Ma’ruf Amin menjadi “benteng” atau “jangkar” Jokowi terhadap isu-isu identitas. Pemerintahan Jokowi yang diserang isu tak ramah terhadap Islam bisa diimbangi dengan kehadiran sosok Ma’ruf Amin yang merupakan Ketua Umum MUI dan ulama NU.

“Hasil survei menunjukkan bahwa sebesar 65,8% pemilih menyatakan simbol Islam tak bisa digunakan untuk menggerus dukungan Islam ke Jokowi karena cawapresnya adalah seorang pimpinan ulama,” kata Fadhli. “Hanya sebesar 17,4% publik yang menyatakan simbol Islam bisa menggerus dukungan terhadap Jokowi.

Alasan Kelima; Jokowi berbeda dengan Ahok. Survei menemukan bahwa publik menilai Jokowi bukanlah musuh bersama ummat Islam. Oleh karena itu, gerakan reuni 212 tidak bisa digunakan untuk menjadikan Jokowi musuh bersama. Sebesar 74,6% menyatakan  bahwa gerakan reuni 212 tidak bisa digunakan untuk menjadikan Joikowi sebagai common enemy pemilih muslim, Hanya sebesar 14,5% pemilih yang menyatakan bahwa reuni 212 bisa digunakan untuk menjadikan Jokowi sebagai common enemy pemilih muslim. (001)

 

 

 

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *