
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Kondisi Pasar Mangkurawang di jalan Ahmad Dahlan, Baru, Kecamatan Tenggarong, dinilai memberikan dampak positif bagi aktivitas perdagangan, khususnya bagi para pedagang yang melayani pembelian dalam jumlah besar (partai).
Fasilitas yang lebih memadai dibanding pasar lama, Pasar Tangga Arung, jalan Maduningrat, Melayu, Tenggarong, membuat para pedagang merasa lebih leluasa berjualan, sekaligus mendorong peningkatan penjualan, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Salah satu pedagang sembako di Toko Nomor 43, Supriano (45), mengaku bahwa aktivitas jual beli di Pasar Mangkurawang jauh lebih nyaman dibandingkan saat masih berjualan di Pasar Tangga Arung.
“Di sini lebih bagus menurut saya. Kalau di sana itu tempatnya tidak memadai untuk partai. Kalau di sini bisa, karena tempatnya bagus. Di sana kan sempit,” ungkapnya kepada Niaga.Asia, Senin (16/3/2026).
Menurut Supriano, perbedaan paling terasa adalah kemudahan dalam melayani pembelian skala besar. Ruang yang lebih luas membuat transaksi partai lebih lancar, baik dari sisi penyimpanan barang maupun mobilitas pembeli.
Di pasar lama, kata dia, keterbatasan ruang sering menjadi kendala utama saat melayani pembeli dalam jumlah besar. Sementara di Pasar Mangkurawang, kondisi tersebut sudah jauh lebih baik.
“Kalau partai itu kan butuh tempat. Di sini lebih enak, lebih leluasa,” jelasnya.
Seiring dengan kenyamanan itu, penjualan sembako, khususnya beras, juga mengalami peningkatan signifikan menjelang Lebaran. Supriano mengatakan, permintaan beras lokal terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Bahkan dalam sepekan, ia mampu menjual hingga 300 bungkus beras ukuran 5 kilogram.
Beras yang dijualnya merupakan beras lokal, salah satunya merek Petaniku (PB Sabar Jaya 27) asal SP III Muara Kaman, Desa Sidomukti. Untuk kemasan 5 kilogram, ia mematok harga Rp70.000/bungkus, atau Rp14.000/kilogram.
“Biasanya menjelang Lebaran ini memang melonjak. Seminggu bisa habis 300 bungkus yang 5 kilo,” terangnya.
Di tengah meningkatnya permintaan ini, ia juga mengaku bahwa harga beras lokal justru mengalami penurunan. Saat ini, harga beras berada di kisaran Rp14.000/kilogram, turun dari sebelumnya Rp15.000.
Menurut Supriano, penurunan harga beras lokal dipengaruhi oleh adanya tim pengendali harga yang melakukan pengawasan di pasar.
“Sekarang sekilonya Rp14.000. Sebelumnya Rp15.000. Semenjak adanya tim pengendali ini jadi dianjurkan segitu,” katanya.
Ia pun memilih hanya menjual beras lokal dari petani Kukar karena dinilai lebih stabil, baik dari sisi harga maupun pasokan. Selain itu, Supriano sengaja tidak menjual beras dari luar daerah lantaran kerap menghadapi ketidakpastian distribusi.
Persoalan utama beras dari luar daerah jelas Supriano, sebenarnya terletak pada sistem pengiriman yang dinilai masih belum optimal, khususnya melalui kontainer. Kondisi tersebut sering memicu ketidakseimbangan pasokan di pasar.
“Kadang terlihat seperti kosong, padahal sebenarnya karena penyusunan barang di kontainer tidak rapi,” tuturnya.
Penataan distribusi yang kurang baik dapat menimbulkan kesan kelangkaan di tingkat pasar. Dampaknya, harga pun ikut terdorong naik meskipun secara stok sebenarnya masih tersedia.

Karenanya, ketika berbincang dengan Bupati Aulia Rahman Basri, ia memberikan sebuah usul agar pengawasan distribusi, khususnya barang dari luar daerah, lebih diperhatikan oleh pemerintah.
Selain beras, komoditas lain yang menjadi perhatian menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah adalah telur, yang mengalami kenaikan harga, terutama yang didatangkan dari luar daerah seperti Surabaya.
Untuk telur ukuran besar, harga saat ini sekitar Rp65.000/piring, ukuran tanggung Rp62.000, dan ukuran kecil mencapai Rp60.000. Padahal sebelumnya harga berada di kisaran Rp55.000.
“Kalau dari luar memang naik banyak,” ujarnya.
Sementara itu, telur lokal dari peternak Kukar relatif lebih stabil di kisaran Rp57.500/piring, meski ketersediaannya terbatas akibat tingginya permintaan menjelang Lebaran.
“Lokal kadang kurang barangnya. Apalagi banyak yang ambil menjelang Lebaran ini,” tegasnya.
Berbeda dengan telur, harga minyak goreng cenderung stabil. Kenaikan hanya terjadi di tingkat distributor sekitar Rp2.000/dus, tetapi tidak terlalu berdampak pada harga eceran.
Saat ini, harga minyak goreng berkisar Rp21.000/liter. Untuk merek tertentu seperti Rose Brand bisa mencapai Rp22.000/liter, sementara merek lain berada di kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000.
Sebagai pedagang yang telah lama berjualan sejak era Pasar Tangga Arung hingga kini di Pasar Mangkurawang, Supriano berharap pemerintah dapat terus menjaga stabilitas harga, khususnya pada komoditas dari luar daerah.
Ia menilai, jika distribusi dapat diperbaiki dan diawasi dengan baik, maka gejolak harga dapat ditekan.
“Harapannya harga tetap stabil. Terutama barang dari luar itu distribusinya diperhatikan,” tutupnya.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Aulia Rahman BasriBeras