latih
Peserta Pelatihan Jurnalistik dari Pegawai Balai Pengelolaan Hutan Produksi dan Dinas Kehutanan se-Kaltim dan Kaltara

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Pegawai Balai Pengelolaan Hutan Produksi dan Dinas Kehutanan se-Kaltim dan Kaltara penting bisa menulis agar bisa membuka “mata” publik akan kondisi hutan dan kehidupan masyarakat di dalam dan sekitar hutan, dan potensi akselarasi program kehutanan dengan kesejahteraan masyarakat.

Hal itu dikatakan Intoniswan, Wartawan Utama sekaligus Pemimpin Redaksi Medi Online Ekonomi dan Bisnis Niaga.Asia dihadapan 30 pegawai kehutanan yang mengikuti  Pelatihan Jurnalistik dan Multimedia  di Hotel Aston Samarinda, Rabu (11/4). Pelatihan  yang berlangsung selama 3 hari tersebut bagian dari kerja sama antara BPHP Wilayah XI Samarinda dengan IkatanJurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kalimantan Timur.

Menurut Intoniswan, menulis itu tidak sulit sepanjang dimulai dari hal-hal yang dipahami dengan baik, kemudian harus berani memulai. “Tulis saja apa yang terpikirkan dalam  kepala dulu,” ajaknya. “Setelah menuliskan apa yang terpikirkan sampai selesai, pada tahap berikutnya adalah melakukan koreksi dan penyempurnaan atas apa yang sudah ditulis,” tambahnya.

amir
Amir Hamzah, Ketua IJTI Kaltim dan Intoniswan

Cara paling simpel mulai menulis adalah menulis hal-hal terkait dengan pekerjaan sehari-hari dan pengetahuan yang sudah dimiliki. Pegawai kehutanan bisa menulis reportase atau feature tentang kayu ulin yang mendekati kepunahan, budidaya gaharu yang punya nilai ekonomi tinggi, serta kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam kawasan atau sekitar hutan.

Dijelaskan pula, pegawai kehutanan punya kedekatan dengan ekosistem hutan, dari berbagai mata rantai ekosistem itu, bisa diambil salah satu jadi topik tulisan. “Pilih topik yang khas dan unik, itu lebih menarik untuk dibaca orang,” kata Intoniswan.

Ia juga menambahkan, berbagai hasil penelitian tentang hutan dan kehutanan, dimana apa bila di-share begitu saja kurang diminati untuk dibaca, pegawai kehutanan bisa menuliskan ulang dalam bentuk karya tulisan ilmiah populer tanpa mengutak-atik keilmiahannya.”Hasil penulisan ulang dari hasil penelitian ilmiah dalam bentuk tulisan ilmiah populer akan menarik minat orang untuk membacanya,” ungkap Intoniswan.

Diterangkan pula, sebetulnya dalam pemberitaan tentang kehutanan, semua media mengalami kesulitan mendapatkan informasi yang aktual akan program pemerintah di sektor kehutanan dan kondisi hutan, serta masyarakat di sekitarnya. “Minimnya informasi tersebut bisa dijembatani pegawai kehutanan dengan tulisan-tulisan baik di blog pribadi maupun website atau laman resmi instansi tempat bekerja,” ujarnya. (001)

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *