Pemberantasan Narkoba Terbentur Rendahnya Partisipasi Pemkot Samarinda dan Masyarakat

bnn
Peserta Diseminasi Informasi P4GN Melalui Forum Komunikasi Anti Narkoba Berbasis Media Online Kota Samarinda yang diselenggarakan BNN Kota Samarinda.

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Pemberantasan dan pencegahan meluasnya penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya di Samarinda terbentur rendahnya partisipasi Pemerintah Kota Samarinda, instansi terkait, dan masyarakat, termasuk peran para ketua rukun tetangga (RT).

Hingga kini Pemkot Samarinda dan DPRD Samarinda belum mengajukan pembuatan Peraturan Daerah (Perda) Tentang P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba) dan Perda Tentang Inhalen yang mengatur perdagangan zat-zat yang biasa digunakan remaja ngelem.

Rendahnya partispasi Pemkot Samarinda juga bisa dilihat di kasus Pasar Segiri yang dibiarkan menjadi pasar grosir narkoba bertahun-tahun, padahal pasar itu sepenuhnya dalam kewenangan Pemkot Samarinda mengaturnya.

Demikian tersimpul dalam diskusi Diseminasi Informasi P4GN Melalui Forum Komunikasi Anti Narkoba Berbasis Media Online Kota Samarinda yang diikuti 30 wartawan dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Samarinda, Rabu (25/4/2018).

Dalam diskusi wartawan menyampaikan, karena Samarinda sudah menjadi kawasan penyalahguna narkoba terbanyak  dan tertinggi se-Kaltim, perlu sinergitas antara Pemkot Samarinda dengan BNN membuat road mape P4GN dan pengaturan dan pengawasan zat-zat untuk ngelem, dan model-model sosialisasi baru agar bisa lebih efektif menekan penyalahgunaan narkoba.

Bandar Sabu di Samarinda Melakukan Perlawanan Terhadap BNN

Menanggapi apa yang disampaikan wartawan, Kepala BNN Kota Samarinda, AKBP Hj Siti Zaekhomsyah tidak menampik fakta seperti itu di Samarinda, sehingga dia “mengaminkan”. “Usulan BNN agar dibuat Perda P4GN dan Perda Inhalen sudah pernah dikomunikasikan, baik dengan Pemkot Samarinda maupun dengan DPRD Samarinda, bahkan saya sudah memberikan contoh perda yang sama yang sudah ada di daerah lain,” ungkap Siti.

Tentang perkembangan usulan BNN tersebut, Siti menerangkan, BNN belum dipanggil Pemkot Samarinda maupun DPRD Samarinda untuk membahasnya. “Bisa jadi usulan kedua perda itu belum masuk dalam prolegda. Tapi yang jelas kedua perda itu sangat diperlukan. Kalau kedua perda itu sudah ada, itu akan menjadi bentuk partisipasi  yang signifikan dalam P4GN,” katanya.

Siti juga membenarkan partisipasi masyarakat dalam P4GN masih minimalis, dari berpuluh-puluh ketua RT yang pernah dimintai bantuannya, hanya tercatat 2 ketua RT pernah melaporkan penyalahgunaan narkoba di lingkungannya, bahkan akhir-akhir ini tak ada lagi, padahal di lingkungan ketua-ketua RT itu marak peredaran narkoba.

Ia juga mengungkapkan, antara pengedar dan pemilik barang (narkoba) dengan masyarakat seperti sudah membaur dan saling “mendiamkan”. Bahkan ada lingkungan yang mau menerima sumbangan sapi kurban dari oknum yang sudah diketahui berbisnis narkoba. Pemilik barang narkoba juga pintar “mendiamkan” masyarakat, misalnya rajin menyumbang dana untuk kegiatan di  lingkungan dia menjalan bisnis pada waktu-waktu tertentu.

Sementara itu Kepala Seksi P2M (Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat) BNN Kota Samarinda, Sucipto juga membenarkan rendahnya partisipasi Pemkot Samarinda dalam hal P4GN. Sumbangan Pemkot Samarinda, selain menghibahkan tanah untuk Kantor BNN Kota Samarinda adalah memperbantukan 4  pegawainya ke BNN. “Saya termasuk yang diperbantukan Pemkot Samarinda ke BNN,” ujarnya.

Menurut Sucipto, dia juga tidak bisa bekerja efektif dan produktif di BNN terkait dengan usia yang sudah mau memasuki masa pensiun. “Bagusnya yang muda-muda diperbantukan ke BNN, bukan seperti saya yang sudah tua begini,” katanya.

Sedangkan Humas BNN Kota Samarinda, Ahmat Fadholi  mengungkapkan, penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja benar-benar sudah “mengerikan” di Samarinda. Kaum tua (orang tua juga kesulitan mendeteksi apakah anaknya terpapar narkoba sebab, mobilitas anak remaja sangat tinggi dan peralatan komukasi  yang dipegang anak-anak remaja juga semakin canggih.

Munculnya geng-geng atau kelompok-kelompok remaja, juga sangat rawan terpapar narkoba. “BNN pernah menangkap remaja masih usia sekolah menjadi kurir narkoba,” kata Fadholi. “BNN sangat berharap para orang tua lebih ketat mengawasi anak-anak yang memasuki masa remaja dan banyak menghabiskan waktu di luar rumah,” terangnya. (001)