Pemerintah Tidak Punya Gula untuk Menurunkan Harga Gula

Ilustrasi

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Harga gula pasir dalam dua bulan terakhir tidak kunjung turun-turun, bertahan pada harga Rp19.000 – Rp21.000 per kilogram, atau lebih tinggi dari harga tertinggi yang dipatok pemerintah Rp12.500 per kilogram.

Penyebab harga gula tidak bisa turun, pada tataran pasar, berdasarkan laporan yang dikumpulkan Niaga.Asia, harga gula mahal,  karena gula yang dijual distributor gula saat ini sebetulnya gula untuk industri, bukan gula yang kuotanya untuk konsumsi, sehingga harganya mengikuti harga gula untuk industri.

Kemudian, gula pasir dalam penguasaan pemerintah (Bulog) sedang kosong, sehingga Bulog tidak mempunyai gula untuk mengintervensi harga di pasar, atau melakukan operasi pasar. “Bulog tidak punya gula untuk digelontorkan ke pasar atau melakukan operasi pasar,” kata Wakil Bupati Berau, H Agus Tantomo yang minggu lalu juga melakukan pengecekan stok gula ke gudang Bulog di Tanjung Redeb minggu lalu.

Untuk menurunkan harga gula konsumsi tersebut ke harga Rp12.500 per kilogram sudah diketahui Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, tapi dia menyebut pemerintah belum bisa melakukan operasi pasar, karena gula yang mau digelontorkan ke pasar agar harga turun, masih dalam proses diimpor dan gula itu baru sampai di Indonesia di bulan Mei 2020.

“Terkait dengan impor pun baru masuk nanti di awal Mei,” kata Menko Perekonomian usai mengikuti Rapat Terbatas, Selasa (21/4), sebagaimana dilaporkan situs setkab.go.id.

Ia menambahkan, harapannya sebagian kebutuhan gula pasir di bulan April ini diisi dari produksi di dalam negeri, dari gula rafinasi yang dimasukkan menjadi operasi untuk di dalam negeri.   Lebih lanjut, Menko Perekonomian menyampaikan bahwa kebijakan terkait dengan gula memang terjadi pengalihan dari gula pabrik untuk makanan minuman ke pasar domestik.

“Pemerintah juga sudah mengalihkan dari produksi dalam negeri sebanyak 303.000 ton untuk dialihkan ke sektor konsumsi. Di samping itu juga ada dari pabrik yang di Dumai, kemudian pabrik yang di Lampung, dan dari 11 pabrik yang memproduksi rafinasi,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, 2 April lalu.

“Namun ini karena memerlukan proses baik dari (izin produksi, red) maupun izin edarnya ini sedang berproses dan dalam waktu dekat ini akan masuk ke pasar,” imbuhnya.

Sementara anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin mengatakan kelangkaan gula pasir di pasar terindikasi besar akibat karena permainan mafia. Mereka sengaja menimbun, karena paham betul prediksi permintaan pasar meningkat jelang Bulan Ramadan dan lebaran. Bahkan ada beberapa analisa berkaitan dengan komoditas gula tahun 2020, bahwa akan terjadi defisit gula konsumsi pada tahun ini apabila tidak ada tambahan dari gula impor.

“Bisa jadi ada yang nimbun untuk ambil untung besar karena pasokan gula  berkurang baik produksi dalam negeri  maupun gula impor. Pemicu utamanya akibat, rasio stok/konsumsi masih relatif tinggi yang diperkirakan sebesar 89,062  juta ton (50,45 persen dari konsumsi total),” tandas Akmal dalam rilisnya dilaman dpr.go.id, Senin (17/2/2020).

Sebagaimana diketahui bersama, sebentar lagi akan hari raya Idul Fitri. Izin impor pada tahun 2019 untuk GKP adalah 495.000 ton atau 500.000 lebih raw sugar. sedangkan saat ini, Izin impor yang sudah keluar 233.000 ton dan yang sudah realisasi sebesar 116.000 ton. Pada hari raya tambahan kebutuhan 150.000 per bulan dan kebutuhan Sumatera 100.000 ton maka stok awal tahun 2021 harus 1,3 juta ton. Kalau stok hanya 900.000 – 1 juta ton maka harga akan naik. (001)

Tag: