
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Prakiraan orang terhadap berakhirnya suatu perang atau konflik, lebih sering meleset. Pengamat memperkiarakan perang antara Rusia dengan Ukraina, dulu diramalkan hanya akan berlangsung selama enam bulan, tapi faktanya fakatanya hingga kini belum usai.
Perang Rusia-Ukraina, yang meningkat menjadi invasi skala penuh pada 24 Februari 2022, masih berlangsung hingga 2026. Konflik ini berakar dari aneksasi Krimea oleh Rusia pada 2014, mengakibatkan ribuan korban jiwa, krisis pengungsi terbesar di Eropa, serta kerusakan infrastruktur energi Ukraina yang masif akibat serangan drone/rudal, terutama saat musim dingin.
Jauh sebelumnya banyak orang memprakirakan Amerika Serikat akan menang di Vietnam dan Afghanistan, tapi faktanya menunjukkan Amerika Serikat, kalah dan tentaranya pulang sangat banyak dalam peti mati. Selain itu veteran perang Vietnam dan Afghanistan setelah pulang banyak dalam kondisi cacat fisik dan mental.
Donald Trump yang menabuh genderang perang bersama Israel melawan Iran, semula memprakirakan bisa menakkluk Iran dalam tempo dua minggu, terbukti juga gagal, bahkan perlawanan Iran, di luar prakiraan Amerika Serikat dan Israel.
Iran ternyata jauh lebih kuat dibandingkan yang diprakirakan Donad Trump dan Netanyahu. Iran mempunyai senjata perang di luar dugaan, selain itu Iran menjadikan Selat Hormuz sebagai tameng, yang bisa mengguncang dunia sebab, 20% pasokan minyak mentah dunia ke Amerika Serikat, Eropa, dan Asia melalui selat yang sempit ini.
Iran menyatakan akan tetap memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia, menurut sebuah pernyataan yang dikaitkan dengan Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.
Pesan tersebut disiarkan melalui televisi pemerintah Iran, namun Khamenei tidak tampil langsung. Pernyataannya dibacakan oleh seorang pembaca berita.
Iran akan “membalas darah” warga Iran yang tewas dalam perang dengan AS dan Israel, ujar Khamenei dalam pernyataannya, yang dikutip BBC News Indonesia.
Dia juga disebutkan memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak mengizinkan wilayahnya dijadikan pangkalan militer AS.
Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi pada 8 Maret 2026, setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia pada hari pertama serangan AS-Israel ke Iran.

Mojtaba Khamenei kehilangan istri dan seorang putranya dalam serangan gabungan AS–Israel terhadap kompleks pemimpin tertinggi yang menewaskan ayahnya.
Ibunya juga dilaporkan tewas dalam serangan itu, meski sebuah media Iran kemudian menyatakan bahwa dia masih hidup.
Kantor berita Reuters, mengutip seorang pejabat Iran yang tak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Khamenei mengalami “luka ringan”, namun tidak ada rincian lebih lanjut.
Dia belum pernah tampil di muka publik dan tidak ada foto maupun rekaman video dirinya sejak ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi.
Kanal berita televisi pemerintah Iran menyebutnya sebagai “veteran perang Ramadan”, tanpa memberikan konfirmasi tambahan mengenai apakah dia terluka atau tidak.
Dalam pesan publik pertama yang dikaitkan dengannya, Khamenei mengatakan Iran harus memanfaatkan “tuas kekuatan berupa penutupan Selat Hormuz”, karena kawasan itu merupakan titik di mana posisi “musuh amat rentan”.

Khamenei menegaskan dalam pernyataannya bahwa Iran akan terus menyerang pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk
Teheran, katanya, tetap berpegang pada kebijakan “persahabatan” dengan negara-negara tetangga, namun dia memperingatkan mereka agar menutup pangkalan militer Amerika di wilayah masing-masing.
“Kami berbagi perbatasan darat atau maritim dengan 15 negara tetangga dan selalu berupaya menjalin hubungan yang hangat dan konstruktif dengan semuanya,” ujarnya.
“Negara-negara ini harus memperjelas sikap mereka terhadap para agresor yang menyerang tanah air kami dan para pembunuh rakyat kami.”
“Saya menyarankan mereka menutup pangkalan-pangkalan tersebut sesegera mungkin.”
Khamenei juga menyinggung “kejahatan terhadap anak-anak, termasuk insiden yang disengaja di sekolah Minab”.
Menurut laporan media Amerika, penyelidik AS meyakini pasukan Amerika secara tidak sengaja menghantam sebuah sekolah di Iran selatan yang berlokasi dekat sebuah pangkalan militer.
Khamenei mengatakan dia mengetahui bahwa dirinya ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi Iran melalui siaran televisi pemerintah.
“Saya mengetahui hasil pemungutan suara Majelis Ahli bersamaan dengan Anda, melalui televisi Republik Islam.”

Beberapa jam kemudian, setelah Israel menyatakan telah melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut pemimpin baru Iran itu sebagai “boneka” Garda Revolusi yang “tak bisa menampakkan diri di depan publik”.
Ketika ditanya mengenai Khamenei dan pemimpin Hizbullah Naim Qassem, Netanyahu mengatakan, “Saya tidak akan menerbitkan polis asuransi jiwa bagi para pemimpin organisasi teroris mana pun,” seperti dikutip Reuters.
Iran sebelumnya mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, yang biasanya menjadi jalur bagi sepertiga perdagangan minyak dunia.
Pemblokiran terhadap tanker minyak—serta serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker di Teluk—telah memicu lonjakan harga minyak.
Pada Rabu, Teheran mengatakan dunia harus bersiap menghadapi harga minyak mencapai $200 per barel dan memperingatkan bahwa setiap kapal tanker yang menuju AS, Israel, dan para sekutunya merupakan target yang sah.
Badan Energi Internasional memperingatkan bahwa pasar minyak saat ini mengalami “gangguan pasokan terbesar dalam sejarah”.
*) Artikel ini disadur dariartikel yang sudah ditayangkan BBC News Indonesia dengan judul “Pidato perdana, Pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei bersumpah tutup Selat Hormuz”
Tag: IranPerang