Lokasi kejadian korban Wahyu tenggelam dari kapal ponton di Sungai Sangatta. (Foto: Jani Humas)

SANGATTA.NIAGA.ASIA – Peristiwa tenggelamnya bocah Wahyu, di Sungai Sangatta pada Kamis (4/7) pagi lalu, jadi atensi Bupati Kutai Timur Ismunandar. Pasalnya, orang nomor satu di Pemkab Kutim itu tidak ingin kejadian itu terulang kembali, bahkan menimbulkan korban jiwa.

Sebelum adanya desakan masyarakat yaitu adanya jembatan yang menghubungkan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan itu, sudah jauh hari Pemkab Kutim mengalokasikan anggaran dalam perencanaan pembangunan. Sejauh ini, menurut Ismunandar, kini tinggal negosiasi dari sisi Sangatta Utara saja.

Sementara itu, lahan dari sisi Sangatta Selatan sudah dibebaskan, dan tidak ada masalah. Dalam hal ini, Pemkab Kutim tengah berupaya memberikan perhatian dalam pembangunan jembatan tersebut.

“Proses terus berjalan. Sekitar 5 – 6 rumah kita tengah dekati untuk pembebasan dengan pemilik lahan. Dalam Coffee Morning Senin (8/7) ini akan jadi bahasan kami mendegar progres perencanaan jembatan dari pihak Dinas PU. Tidak hanya itu, saya juga akan memanggil Dinas Perhubungan, terkait mekanisme teknis penyeberangan yang aman (safety),” jelas Ismunandar.

Senada, Kadis Pekerjaan Umum Aswandini Eka Tirta melalui Kasi Perencanaan Teknis Asran Lode mengatakan, sampai saat ini progres pembangunan masih dalam tahap negosiasi antara pemerintah dengan pemilik lahan. “Masih alot perundingan ganti ruginya. Pemerintah sudah menawarkan ganti rugi,” ujarnya.

Selain itu, ganti rugi juga dituntut oleh pemilik ponton yang selama ini beroperasi di Sungai Sangatta. “Karena menurut mereka bisnis ponton akan mati setelah ada jembatan,” ungkapnya.

Sampai saat ini, menurut Asran, pihaknya masih mencari solusi ganti rugi yang pas, terhadap rumah di Sangatta Utara, yang bakal terkena gusuran proyek jembatan. (hms13)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *