Pemkab Nunukan Minta Bulog Penuhi Kebutuhan Sembako bagi Masyarakat di Perbatasan

Wakil Bupati Nunukan H. Hanafiah (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Pemerintah Kabupaten Nunukan minta Bulog membantu memenuhi kebutuhan sembako bagi masyarakat di perbatasan Indonesia-Malaysia, khususnya di Kabupaten Nunukan, agar ketergantungan terhadap sembako dari Malaysia bisa diatasi.

“Kalau saja barang dalam negeri bisa jadi tuan rumah di perbatasan, tidak mungkin masyarakat kita berburu kebutuhan hidup produk Malaysia,” kata Wakil Bupati Nunukan H. Hanafiah pada Niaga.Asia, Rabu (29/06/2022).

Keterbatasan produk dalam negeri sering menimbulkan persoalan, terutama ketika produk Malaysia beredar di Nunukan, termasuk barang larangan seperti daging Allana yang secara aturan dilarang.

Untuk itu, Pemerintah Nunukan meminta Badan Logistik (Bulog) bisa membantu memenuhi kekurangan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat di wilayah perbatasan.

“Tidak semua sembako Malaysia boleh diperdagangkan di Nunukan, ada pembatasan kuota dan ada larangan terkait kesehatan,” tutur Hanafiah.

Barang Malaysia Lebih Murah

Dalam memenuhi kebutuhan sembako, Hanafiah mengaku Pemerintah Nunukan pernah bekerjasama dengan Bulog untuk mesuplai, namun ada persoalan yang sulit dipenuhi masyarakat, yakni harganya lebih mahal dibandingkan produk Malaysia.

Produk dalam negeri yang lebih mahal karena biaya logistik tinggi menimbulkan penolakan di masyarakat.

“Kita terbiasa membeli produk Malaysia yang lebih murah. Ketika Bulog menawarkan barang lebih tinggi pasti ada penolakan, kesenjangan ini sulit diterima masyarakat,” jelasnya.

Bulog sebagai lembaga yang ditunjuk pemerintah mengurusi penyediaan logistik, diharapkan  lebih banyak berperan dalam mengatasi kelangkaan barang di wilayah perbatasan, khususnya  di kecamatan-kecamatan pedalaman.

Bantuan pemerintah pusat memudahkan transportasi angkutan barang subsidi untuk daerah tertentu menggunakan tol laut dan jembatan udara ke perbatasan, tapi  belum maksimal mengatasi mendistribusikan kebutuhan pokok.

“Ada kapal tol dan jembatan udara perbatasan, tapi belum terlalu efektif karena arus balik dari Nunukan minim,”  terang Hanafiah.

Sebagai daerah perbatasan dengan garis pantai begitu luas, sulit bagi pemerintah dan aparat mengamankan barang larangan dari Malaysia masuk Nunukan, dilain sisi barang-barang tersebut tidak ada di dalam negeri.

Desakan kebutuhan hidup tanpa pilihan membuat masyarakat dan pedagang tetap membeli sembako Malaysia. pemerintah daerah memaklumi keadaan ini selama pembelian tidak berlebihan dan tidak dijual ke luar Kabupaten Nunukan.

“Terhadap sembako – sembako tertentu Malaysia tetap diperbolehkan beredar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat wilayah pedalaman,” pungkasnya.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Rachmat Rolau

Tag: