Penduduk Miskin di Kaltim: Di Perdesaan 52,5% dan Perkotaan 47,5%

Sumber BPS Kaltim

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Penduduk miskin di perdesaan Kalimantan Timur (Kaltim) masih lebih banyak dibandingkan di perkotaan. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, hari ini, Senin (15/02/2021) dari 243.990 penduduk miskin di Kaltim di bulan September 2021, sebanyak 128.110 orang atau 52,5% ada di perdesaan, sedangkan di perkotaan terdapat 115.880 orang atau 47,5%.

“Jumlah penduduk miskin di perdesaan 9,98% dari total penduduk di perdesaan, di perkotaan penduduk miskinnya 5,10% dari total penduduk yang tinggal di perkotaan,” ungkap Kepala BPS Kaltim, Anggoro Dwitjahyono dalam rilisnya yang disampaikan secara virtual.

Jumlah penduduk miskin di Kalimantan Timur (Kaltim) pada September 2020 sebanyak 243.990 (6,64 persen). Pada Maret 2020 sebanyak 230.260 (6,10 persen), berarti jumlah penduduk miskin secara absolut bertambah 13.730 orang (secara persentase naik 0,54 persen poin).

Secara nasional angka kemiskinan pada September 2020 yakni 10,19%. Kemiskinan di Kaltim berada diurutan 9 terendah setelah Bali, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, dan Kepualauan Riau. Angka kemiskinan terendah di Balik 4,45%, tertinggi di Papua 26,80%.

Sebanyak 18 provinsi (termasuk Kaltim) angka kemiskinannya di bawah nasional dan 16 provinsi angka kemiskinannya di atas nasional.

Sumber BPS Kaltim

Menurut Dwi, faktor-faktor yang terkait dengan tingkat kemiskinan di Kaltim yakni perubahan harga eceran beberapa komoditas pokok pada periode Maret 2020 – September 2020 yang mengalami kenaikan, antara lain minyak goreng naik 7,12% dan beras naik 1,14%.

“Sedangkan komoditas pokok yang turun harganya diperiode yang sama adalah daging sapi turun 3,11%, daging ayam ras turun 13,62%, gula pasir turun 2,93%, dan cabai rawit turun 20,11%,” ujarnya.

Selain itu, faktor yang membuat jumlah penduduk miskin bertambah antara bulan Maret 2020 – September 2020 adalah tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada bulan Agustus naik sebesar 6,87 persen, atau naik 0,93 persen poin dibandingkan Agustus 2019 yang sebesar 5,94%.

“Kemudian, 411.380 penduduk usia kerja atau 14,28% terdampak COVID-19,” ungkap Dwi. Rinciannya 30.980 penduduk menjadi pengangguran, 14.240 penduduk menjadi bukan angkatan kerja, 21.200 penduduk sementara tidak bekerja, dan 344.850 penduduk bekerja dengan penguarangan jam kerja (shorter hours).

Komoditi Berpengaruh

                BPS Kaltim juga melaporkan komoditi yang memberi pengaruh besar terhadap garis kemiskinan makanan di perkotaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, cabe rawit, ikan tongkol/tuna/cakalang, bawang merah, dan susu bubuk.

Sedangkan komoditi yang memberi pengaruh besar terhadap garis kemiskinan makanan di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, , daging ayam ras, telur ayam ras, mie instan, cabe rawit, gula pasir,  ikan tongkol/tuna/cakalang, bawang merah, dan tempe. (lengkapnya lihat tabel)

Sumber BPS Kaltim

Disparitas Kemiskinan

Menurut Dwi, BPS mencatat dipasritas kemiskinan perkotaan dan perdesaan masih tinggi. Perumahan Maret 200 – September 2020 menunjukkan kemiskinan di perkotaan naik 0,65% poin dan di perdesaan naik sebesar 0,47% poin.

Menurut Dwi, garis kemiskinan per rumah tangga miskin di Kaltim pada September 2020 secara rata-rata 1 rumah tangga miskin memiliki 5,67 anggota rumah tangga.

Pada maret 2020 – September 2020 indek kedalaman kemiskinan (P1) di Kaltim naik 0,016 poin dari 1,015 menjadi 1,031.

Indeks kedalaman kemiskinan di perdesaan lebih tinggi daripada perkotaan, pada September 2020 di perdesaan 1,801 sedangkan di perkotaan 0,675.

Kemudian gini ratio di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan, pada September 2020 di perkotaan sebesar 0,330 sedangkan di perdesaan 0,286.

“Berdasarkan gini ratio mengindikasikan ketimpangan di perkotaan lebih tinggi darpada di perdesaan,” pungkas  Dwi. (001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *