Penerima Anugerah Kebudayaan (7), Hamdani: Anugerah Kebudayaan itu ‘Hukuman’

Hamdani bersama istri Hj. Deasy Selvia  dan anak-anak. (Foto Istimewa)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Setelah 45 tahun berkesenian teater, Hamdani mendapat ganjaran ‘hukuman’ berupa Anugerah Kebudayaan Kaltim tahun 2022 kategori Pelopor dan Kreator Teater Daerah dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

“Anugerah ini jelas ‘hukuman’ buat saya agar terus menggeluti dunia Kesenian, khususnya teater hingga di penghujung usia,” ucap pria yang lahir di Samarinda, 18 Oktober 1960 ini.

Padahal ucap alumni Fisipol Unmul ini, sebenarnya ia sudah merasa lelah berkesenian.

“Sejak tahun 1977 saya berteater. Meski sudah banyak yang saya lakukan untuk mengembangkan teater di Kaltim, namun ternyata masih banyak hal yang membuat saya harus ikut terlibat bagi pemajuan kesenian. Sebut saja misalnya, kurang adanya dukungan pemerintah dalam dana pembinaan dan fasilitas seniman beraktifitas,” papar penulis ratusan naskah drama panggung, radio dan televisi dengan serius.

Mumpung lagi mendapat ‘hukuman’ dari pemerintah, penulis beberapa buku biografi, sejarah, kesenian dan olahraga ini akan bersuara lantang kepada pemerintah dalam berbagai bentuk dan cara, supaya kesenian tidak sekadar pelengkap atau atribut belaka.

“Secara kelembagaan melalui DKD Kaltim, sejak 10 tahun lalu menyampaikan aspirasi agar dibuatkan alas hukum bagi pemajuan kesenian berupa perda dan peraturan pergub agar pemerintah tidak ada lagi alasan untuk tidak memfasilitasi pembinaan kesenian,” ungkap Ketua Harian Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kaltim, usai menerima Anugerah Kebudayaan, beberapa waktu lalu.

Meski belakangan ranperda kesenian itu berubah menjadi perda pemajuan kebudayaan, Hamdani tidak mempersoalkan.

“Kesenian adalah bagian dari kebudayaan. Lagi pula dalam Perda Pemajuan Kebudayaan yang sudah disahkan saat rapat paripurna DPRD Kaltim, DKD secara eksplisit disebutkan di dalam pasal,” ucap suami dari Hj. Deasy Selvia itu.

Ayah lima orang anak ini sangat mencintai kesenian.

“Saya pernah berhenti kuliah dan bekerja lantaran saya merasa mengganggu aktifitas berteater. Mungkin lantaran pernah mendengar cerita saya itu, binaan saya di beberapa kelompok teater punya adagium ‘kalau sekolah dan pekerjaan mengganggu teater, berhenti sekolah dan bekerja’,” ungkapnya seraya tertawa berderai.

Lantaran cintanya dengan teater, Hamdani mengaku sudah mencicipi manisnya berkesenian.

“Saya pernah pentas dan jalan-jalan ke luar negeri dan beberapa kota di Indonesia lantaran berteater dan berkesenian. Meski tidak rutin, saya juga mendapat pesanan membuat naskah dan  penyutradaraan di even-even besar. Lumayanlah buat nambah keperluan sehari-hari,” lanjut Hamdani yang juga menggeluti dunia jurnalistik sejak tahun 1986.

Kembali ke aktivitas kesenian seusai meraih anugerah, mantan guru SMAN 2 Samarinds untuk mata pelajaran kesenian, tata negara dan sosiologi ini, mengaku tetap berjalan seperti biasa.

“Saya lagi penyutradarai persiapan pentas teater di Solo, 3 Desember nanti dengan mengangkat lakon ‘Geger’ yang saya tulis sendiri. Cuma ada keistimewaan dalam garapan kali ini. Saya menyutradarai para aktor teater senior Kaltim, seperti Wawan Timor, Pance, Sabir, Nur, Ozi dan Dede,” pungkasnya.

Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan

Tag: