Penerimaan Terhadap Anak Terpapar Narkoba Setelah Direhabilitasi Perlu Diperbaiki

alur

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Penerimaan orang tua dan keluarga, serta masyarakat terhadap anak terpapar narkoba setelah selesai direhabilitasi perlu diperbaiki supaya si anak tidak kembali menjadi pengguna narkoba.

“Terhadap anak terpapar narkoba, setelah direhabilitasi perlu perhatian khusus dengan tingkat kepedulian lebih besar dari yang biasanya dari orang tua dan keluarga. Masyarakat juga perlu peduli dengan menunjukkan sikap toleran, tidak mengucilkan di lingkungan permukiman,” ungkap Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Samarinda, AKBP Hj Siti Zaekhomsyah saat menyelenggarakan Diseminasi Informasi P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba) dengan peserta wartawan media online di Samarinda, Rabu (25/4/2018).

Dijelaskan, Kota Samarinda adalah daerah zona merah dalam hal penyalahgunaan narkoba. Tertinggi se-Kaltim dengan pengguna sudah ribuan orang. Hal itu terjadi karena Samarinda  kota besar, penduduknya sudah 700.000 jiwa lebih, perputaran uang di Samarinda juga besar, letaknya strategis, menjadi jangkar bagi bandar dan pengedar mengedarkan narkoba ke daerah lain.

Sebagian besar narkoba jenis sabu-sabu di Samarinda dipasok dari Tawau, Sabah Malaysia. Setelah diseberangkan ke Nunukan, kemudian dibawa melalui transportasi darat ke Malinau, Tanjung Selor, Tanjung Redeb, Sangatta, dan masuk ke Samarinda. Samarinda sudah menjadi pasar grosir narkoba. “Para orang tua dan guru perlu waspada,” kata Siti.

Menurut Siti, Balai Rehabiltasi Penyalahguna Narkoba milik BNN di Tanah Merah kapasitasnya juga terbatas. Setahun hanya mampu melakukan pekerjaan merehabilitasi dan pendampingan terhadap 200 orang khusus usia dewasa. Karena yang mau direhab banyak, terpaksa harus antri.

Tambahan fasilitas yang baru di pusat rehab adalah untuk anak-anak, usia dibawah 18 tahun. “Kita sudah punya fasilitas untuk rehab anak dibawah umur,” terangnya. Rehabilitasi di pusat rehab BNN sepenuhnya gratis, termasuk yang harus rawat inap maupun rawat jalan.

BNN Kota Samarinda selain mempunyai pusat rehab, sejak tahun lalu juga sudah mempunyai Klinik Pratama yang melayani penggunan yang mau bersih atau terbebas dari narkoba dan memberikan layanan konsultasi. “Sebelum penggunan dapat tempat di pusat rehab, sedang antri masuk ke pusat rehab dan pasca rehab, kita layani di klinik,” ujar Siti lagi.

Berdasarkan catatan di BNN Samarinda, lanjut Siti, problem besar yang dihadapi korban penyalahgunaan narkoba pasca rehab adalah, lemahnya pengawasan dari orang tua maupun keluarganya, masyarakat atau lingkungan mengucilkan bekas pengguna narkoba, atau tak mempunyai keluarga, sehingga pasca rehab tidak tahu harus tinggal dimana karena berasal dari keluarga broken home.

“Untuk mengatasi problem pasca rehab tersebut BNN sangat memerlukan dukungan pemerintah daerah dan masyarakat,” ujar Siti. Sementara ini untuk mengatasi masalah, BNN  ada bekerja sama dengan beberapa panti asuhan, sehingga anak yang berasal dari keluarga broken ditampung di panti asuhan, baik milik yayasan maupun pemerintah.

Kemudian, problem lain yang dihadapi bekas pengguna setelah rehab adalah tidak mempunyai pekerjaan  atau jadi pengangguran, sehingga mudah lagi terpapar narkoba dari pergaulan sehari-hari. Untuk menjadikan bekas pengguna produktif, mereka perlu dikasih pekerjaan. BNN baru bisa memberikan pelatihan keterampilan berupa sablon, pelatihan menjadi mekanik sepeda motor.

“Pembekalan keterampilan bagi bekas pengguna di balai  rehab sudah dilaksanakan, tapi masih jauh dari yang dibutuhkan sebab terbatasnya dana. Selama ini BNN Samarinda mengandalkan satu sumber dana, yakni dari APBN melalui BNN Pusat. Sedangkan dari daerah melalui APBD Provinsi atau Kota belum ada,” ungkap Siti. (001)