alkes
Alkes dikirim dari Nunukan tanpa keterangan untuk Puskesmas Long Bawan atau Puskesmas Long Layu.

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Pengelolaan proyek kesehatan di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan menggunakan APBD Nunukan Tahun Anggaran Tahun Anggaran 2017 ditemukan amburadul. Rumah dokter yang dibangun, setelah jadi kondisinya miring dan belum dialiri listrik karena PLN menolak memberikan sambungan listrik sehubungan kabel yang digunakan kontraktor tidak memenuhi standar PLN.

Pendistribusian alat kesehatan (alkes) untuk Puskesmas di Long Layu (Karayan Selatan) dan Puskesmas Long Bawan (Krayan) juga kacau, karena saat dikirim dari Nunukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan tidak dipisahkan mana yang untuk Puskesmas Long Layu dan Puskemas Long Bawan.

Pengadaan mebeler bagi kedua Puskemas yang dikerjakan di Krayan juga tidak sempurna atau selesai 100 persen. Pemborong menyerahkan ke Puskesmas dalam kondisi belum dicat, bahkan kayu pengaman saat lemari dibuat belum dilepas.

Hal itu dikatakan anggota DPRD Nunukan, Marli Kamis asal daerah pemilihan Krayan usai melakukan kegiatan monitoring  bersama anggota DPRD Nunukan lainnya  terkait dengan Laporan Keuangan dan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Nunukan Tahun Anggaran 2017.

Menurut Marli, bangunan rumah dinas dokter saat ditinjau sudah selesai, tapi secara kasat mata terlihat miring dan perlengkapan untuk jaringan listrik tidak sesuai standar yang ditentukan PT PLN. “PLN menolak menyambukan aliran listrik ke rumah dokter itu  karena kabel yang digunakan tidak sesuai standar, alhasil sampai hari ini rumah dokter tidak ada listriknya dan tidak ditempati dokter,” ungkapnya.

marli
Marli Kamis.

Anggota DPRD Nunukan yang melakukan monitoring juga tidak mendapat informasi yang lengkap di lapangan karena proyek pembangunan rumah dokter tersebut tanpa dilengkapi papan pengumuman proyek. “Kita tidak tahu berapa anggarannya, kontraktor pelaksananya maupun instansi yang mengelola proyek,” kata Marli.

Marli mengatakan, soal kabel listrik yang tidak memenuhi standar, informasi yang diperoleh adalah, kontraktor mengakui kesalahan dan bersedia mengganti kabel sesuai standar, namun hingga satu minggu ini belum ada realisasi pergantian, karena itu, bangunan rumah masih gelap gulita. “Listrik belum ada, air bersih  dan mebeler juga belum ada. Sementara ini dokter tinggal di rumah sekitar Puskesmas,” ujarnya.

Tidak hanya itu, anggota DPRD Nunukan juga menemukan keterlambatan distribusi alat kesehatan (alkes) yang dibeli  menggunakan APBD Nunukan Tahun 2017  ke  Puskesmas Krayan di Long Bawan maupun Puskesmas Krayan Selatan di Long Layu.

Kemudian, saat alkes dikirim dari Nunukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, juga dijadikan satu antara alkes untuk di Puskesmas Long Bawan maupun Long Layu. Hal itu membuat petugas Puskesmas tidak berani menggunakannya. “Tidak jelas untuk Puskemas yang mana alkes itu,” kata Marli. Karena tanpa kejelasan itu,  masih banyak alkes tersimpan di gudang-gudang Puskesmas. “Kepala Puskemas baru mengambil atau menggunakan  alkes yang fungsinya sangat vital bagi pelayanan kesehatan masyarakat,” tambahnya.

mebeler
Mebeler diserahkan pemborong dalam kondisi belum sempurna dikerjakan.

Hal lain yang ditemukan anggota Dewan adalah, banyak pengadaan mebeler Puskesmas di Long Bawan tidak sempurna. Beberapa meja dan lemari diserah kontaraktor dalam kondisi belum sempurna dikerjakan.  “Banyak lemari belum di cat atau pernis, pokoknya mereka serahkan dalam keadaan masih kasar, bahkan ada lemari masih terpasang kayu penahan,” tuturnya.Terhadap berbagai temuan itu,  Marli meminta bupati Nunukan memperhatikan  kualitas barang yang dibeli dan nilai pembayaran ke kontraktor.  (002)

Berita Terkait