Pengemudi Mobil Tewaskan Pemotor di Samarinda jadi Tersangka

Komisaris Polisi Creato Sonitehe Gulo bersama personel satuan lalu lintas melakukan olah tempat kejadian perkara di lokasi kejadian kecelakaan Jalan Ahmad Yani II, Rabu 27 Juli 2022 (handout Satuan Lalu Lintas Polresta Samarinda)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Penyidik satuan lalu lintas Polresta Samarinda menetapkan Sumartini, 50 tahun, pengemudi mobil yang menabrak hingga menewaskan pemotor Safrudin Sarwani, 58 tahun, di Jalan Ahmad Yani II hari Rabu 27 Juli lalu sebagai tersangka.

Penetapan status tersangka dilakukan Senin, setelah dilakukan pemeriksaan dan gelar perkara. Pengemudi bersangkutan dinyatakan memenuhi unsur pasal 310 ayat 4 Undang-undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Jadi kita sudah lakukan pengujian terhadap kendaraan. Hasil pemeriksaan kendaraan, rem tidak blong,” kata Komisaris Polisi Creato Sonitehe Gulo, Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Samarinda, dalam pernyataannya kepada niaga.asia Rabu.

Menangani peristiwa itu, kepolisian memiliki petunjuk dari beberapa rekaman kamera CCTV, di mana kecepatan kendaraan tersebut bertambah usai menuruni turunan Jalan Alaya.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara menunjukkan, kendaraan yang dikemudikan Sumartini dua kali membentur median jalan. Namun demikian mobil itu tidak mengalami pengurangan kecepatan.

BACA JUGA :

Polisi Belum Tahan Pengemudi Mobil Maut Tewaskan Pemotor di Samarinda

“Kecepatan malah bertambah,” ujar Gulo.

Dari fakta-fakta kejadian yang dihimpun kepolisian kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap pengemudi kendaraan. Di mana pengemudi mengakui mobilnya tidak mengalami rem blong.

“Tapi pada waktu itu pengemudi hendak mengejar lampu hijau yang sudah mau merah. Jadi pada turunan Jalan Alaya itu dia menambah kecepatan. Karena ini mobil matic, dia tidak bisa mengendalikan kecepatannya dengan baik. Iya (out of control),” Gulo menjelaskan.

Berikutnya kendaraan yang melaju dan berada di Jalan Ahmad Yani II, pengemudi panik karena kendaraan di depannya berjalan lambat. Upaya pengemudi membanting setir atau kemudi ke kanan justru membentur median jalan.

“Karena kendaraan matic kan kaki itu melekat. Di situlah karena benturan itu dia malah semakin menginjak gasnya. Iya benar karena panik,” sebut Gulo.

Sementara Tidak Ditahan

Meski Sumartini berstatus tersangka, sementara kepolisian tidak melakukan penahanan kepada yang bersangkutan.

“Bahkan waktu pemeriksaan kepada yang bersangkutan (pengemudi mobil), kita membawa pendampingan dokter kepolisian. Kita mengajak dokter untuk mengecek kesehatannya dulu,” Gulo menerangkan.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara mobil yang dikemudikan Sumartini berfungsi dengan baik (handout/Satuan Lalu Lintas Polresta Samarinda)

“Karena kalau oleh dokter kondisi kesehatannya dinyatakan tidak bisa memberikan pernyataan kan gugur. Kita tidak bisa melakukan pemeriksaan,” Gulo menegaskan lagi.

Dari penjelasan dokter, pengemudi mobil itu memiliki riwayat kesehatan yang sedikit mengkhawatirkan karena pernah mendapatkan serangan jantung. Selain itu, kondisi fisik pengemudi juga masih dalam kondisi terluka.

“Dengan kondisi beberapa bagian tubuh pengemudi yang masih sakit, pertimbangan penyidik, kita meminta kepada keluarganya agar tidak dibawa keluar kota dan tetap tinggal di rumah keluarganya di Samarinda,” kata Gulo.

“Yang jelas (pengemudi mobil) sudah dimintai keterangan. Kita mintai dulu keterangan sebelum menetapkan tersangka,” demikian Gulo.

Sebagai gambaran pada Undang-undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 310 ayat 4 berbunyi “Dalam hal kecelakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12.000.000”

Sedangkan pasal 310 Ayat 3 mengatur : “Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban luka berat sebagaimana dimaksud dalam pasal 229 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 10.000.000”.

Penulis : Saud Rosadi | Editor : Saud Rosadi

 

Tag: