Ampas sawit  (palm kernel expeller) Kaltim diminati oasar luar negeri untuk diolah jadi pakan ternak. (Foto HO/Net)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Kinerja ekspor produk pertanian dan non pertanian Kalimantan Timur (Kaltim) sejak Januari hingga April 2020, baik sebelum maupun saat pandemi COVID-19 meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun 2019 karena ditopang program Kementerian Pertanian yakni “Gerakan Tiga Kali lipat Ekspor (Gratieks) di Tahun 2020″.

Ekspor kedua komoditi tersebut sudah dilakukan pelaku usaha sebanyak 48 kali, dengan nilai keseluruhan Rp187,914 miliar. Dibandingka periode yang sama tahun 2019 yang nilainya Rp Rp43,242 miliar, telah tercapai kenaikan empat – lima kali lipat dari target tiga kali lipat.

Demikian diungkap Kepala Kantor Karantina Samarinda Drh. Agus Sugiyono, M.AP menjawab Niaga.Asia, Rabu (10/6/2020).

Rincian  volume ekspor produk pertanian yang berasal dari usaha perkebunan Januari – April 2020 sebanyak 18.209 ton, diekspor ke 24 negara, nilainya Rp80,389 miliar. Sedangkan volume ekspor produk non pertanian, yakni kehutanan diperiode yang sama volumenya 6.632 m3 nilainya Rp107,524 miliar.

Menurut Agus,  Kantor Karantina Pertanian Samarinda terus mendukung akselerasi ekspor produk pertanian asal Kaltim, terbukti terjadi peningkatan lalulintas ekspor komoditas perkebunan yakni olahan kelapa sawit seperti palm kernel expeller, bungkil sawit serta cangkang sawit dan komoditas kehutanan yakni olahan kayu seperti plywood, veneer kruing dan moulding pada tahun 2020 dibandingkan 2019 pada triwulan pertama.

“Hal ini sebanding dengan program Kementerian Pertanian yakni Gerakan Tiga Kali lipat Ekspor (Gratieks) di tahun 2020″ ujarnya.

Ekspor komoditi pertanian yang berasal dari usaha perkebunan yaitu ampas sawit dan palm kernel expeller, use cooking oil, ditambah rumput laut. Sedangkan ekspor komoditi non pertanian, yakni produk hasil hutan berbagai jenis kayu, karet, moulding, dan kayu lapis veneer.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kaltim, negara tujuan utama ekpsor pertanian dan non pertanian (non migas) Kaltim adalah  China, India, Malaysia, Taiwan, Philippines, Jepang, Vietnam, Pakistan, Korea Selatan, dan Thailand.

Dalam makalah ilmiahnya, Arnold P Sinurat – Peneliti dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Bogor, mengutip Data Food and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan, di 2007 jumlah BIS (bungkil inti-sawit ) atau Palm Kernel Expeller(PKE) atau Palm Kernel Meal (PKM) nilainya mencapai 2,14 juta ton, atau sekitar 10% dari produksi CPO.

Tiap tahun tidak kurang dari 2 juta ton bungkil inti-sawit (BIS) “dibuang percuma” sebagai ampas industri minyak-sawit (CPO = crude palm oil) di Indonesia yang diekspor dengan harga “sampah”. Selain untuk diekspor, ampas yang dikenal sebagai PKM (palm kernel meal) ataupun PKC (palm kernel cake) itu juga dimanfaatkan sebagai komponen pakan ternak pengganti jagung.

Dilihat dari komposisi nutrisi, BIS memiliki kandungan serat kasar (SK), dan beberapa senyawa polisakarida yang tinggi. Oleh karena itu, penulis  ingin melakukan pengkajian tentang pemanfaatan BIS untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat dan bernilai jual tinggi selain hanya sebagai sampah dan pakan ternak.

Sedangkan Palm Kernel Expeller(PKE) atau Palm Kernel Meal (PKM) merupakan salah satu produk turunan kelapa sawit yang banyak digunakan sebagai bahan baku pakan ternak. PKE termasuk salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia yang banyak dikirim ke berbagai negara, antara lain:New Zealand, China, Korea, Vietnam, Thailand, dan Eropa.

New Zealand sebagai negara terbesar tujuan ekspor PKE dari Indonesia yang mencapai lebih kurang 70% dari jumlah produksi PKE Indonesia atau setara dengan 43,3% dari total kebutuhan PKE di New Zealand.

Ekspor PKE Indonesia ke New Zealand harus memenuhi persyaratan Import Health Standar (IHS) dariMinistry for Primary Industry(MPI) New Zealandtentang Importation into New Zealand of Processed Animal Feeds of Plant Originyangdiatur bahwa setiap pakan ternak yang dikirim ke New Zealand harus berasal dari fasilitas yang telah diakui (approved) oleh National Plant Protection Organization(NPPO) negara pengekspor.

Pedoman sertifikasi fitosanitari PKE tujuan New Zealand disusun dan ditetapkan oleh Kepala Badan Karantina untuk dapat digunakansebagai pedoman bagi seluruh pihak dalam rangka pemenuhan persyaratan ekspor PKE ke New Zealand sebagaimana ditetapkan dalam IHS. (001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *