Kepala Dinas Perkebunan, Ujang Rachmad. (Foto Disbun Kaltim)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur dalam statistik terbarunya, tahun 2019 mencatat total luas areal perkebunan kepala sawit rakyat, perkebunan perusahaan negara, dan swasta di Kaltim 1.228.138 hektar, produski 18.343.852 ton atau 20.776 kilogram/hektar dengan jumlah tenaga sebanyak 220.055 orang.

“Jadi naker diserap disub sektor perkebunan sawit masih yang tertinggi dibandingkan lainnya,” kata Kepala Dinas Perkebunan Kalimantan Timur, Ujang Rachmad menjawab Niaga.Asia, Minggu, (04/10/2020).

Dirincikan, luas perkebunan dan prduksi perkebunan kelapa sawit pola  rakyat/wadaya di Kaltim 255.919 hektar dengan  produksi TBS 2.289.682 ton, atau rata-rata produksi 14.419 kg/hektar, dan tenaga kerja yang diserap 101.087 orang.

Kemudian luas areal dan produksi perkebunan kepala sawit pola perkebunan besar negara (PTPN XIII) di Kalimantan Timur 14.402 hektar, produksi 171.042 ton atau rata-rata produksi 12.995 kilogram/hektar, jumlah tenaga kerja 5.728 orang.

Indonesia sedang melakukan uji coba BBM solar 100% dari sawit.

“Sedangkan luas areal dan produksi perkebunan kepala sawit pola perkebunan besar swasta di Kalimantan Timur 957.817 hektar, produksi 15.883.123 ton atau rata-rata produksi 22.340 kilogram/hektar, jumlah tenaga kerja diserap 113.240 orang,” papar Ujang.

Menurut Ujang, sebaran perkebunan kelapa sawit di Kaltim 1.228.138 hektar tersebut, di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu 231.958 hektar dengan rata-rata produksi 18.233 kg/hektar dan tenaga kerja yangd iserap sebanyak 28.747 orang, di Kutai Timur 459.543 hektar dengan rata-rata produksi 23.102 kg/hektar dan tenaga kerja yang diserap sebanyak 75.413 orang.

Di Kutai Barat 145.125  hektar dengan rata-rata produksi 23.740 kg/hektar dan tenaga kerja yangd iserap sebanyak 19.352 orang, di Kutai Mahakam Ulu 21.740 hektar dengan rata-rata produksi 6.000 kg/hektar dan tenaga kerja yang diserap sebanyak 3.260 orang, di Kutai Penajam Paser Utara 49.689 hektar dengan rata-rata produksi 23.703 kg/hektar dan tenaga kerja yang diserap sebanyak 12.876 orang.

Selanjutnya I Paser 183.575 hektar dengan rata-rata produksi 16.771 kg/hektar dan tenaga kerja yang diserap sebanyak 50.908 orang, di Berau  135.092 hektar dengan rata-rata produksi 23.315 kg/hektar dan tenaga kerja yang diserap sebanyak 28.835 orang.

“Diperkotaan juga ada kebun sawit, misalnya  di Samarinda 1.308  hektar dengan rata-rata produksi 11.710 kg/hektar dan tenaga kerja yang diserap sebanyak 610 orang, di Balikpapan 36 hektar dengan rata-rata produksi 16.172 kg/hektar dengan tenaga kerja diserap 20 orang, dan di Bontang seluas 72 hektar dengan produksi 6.222 kg/hektar dan tenaga kerja diserap 34 orang,” ungkap Ujang.

Sementara Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, Anggoro Dwitjahyono dalam rilis terbarunya, Rabu (5/8/2020) menyebut NTP (Nilai Tukar Petani) per subsektor Provinsi Kalimantan Timur Juli 2020 yaitu Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) sebesar 100,98; Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) sebesar 105,92; Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) sebesar 116,82; Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) sebesar 102,67; dan Nilai Tukar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (NTNP) sebesar 102,00.

“Pada Juli 2020, terdapat dua subsektor yang mengalami peningkatan NTP, yaitu subsektor tanaman perkebunan rakyat (3,16 persen) dan subsektor peternakan (0,02 persen). Sementara itu, tiga subsektor lainnya mengalami penurunan, yaitu subsektor tanaman pangan (-0,61 persen), subsektor hortikultura (-0,10 persen), dan subsektor perikanan (-0,45 persen),” ungkapnya.

NTP Provinsi Kalimantan Timur Juli 2020 sebesar 108,25 atau naik 1,15 persen dibanding NTP pada bulan Juni 2020. Peningkatan NTP disebabkan oleh meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dan turunya Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).

“Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Kalimantan Timur Juli 2020 sebesar 109,39 atau naik 0,54 persen dibanding NTUP pada bulan Juni 2020 yang tercatat sebesar 108,80. Hanya terdapat satu subsektor yang mengalami peningkatan NTUP, yaitu subsektor tanaman perkebunan rakyat,” kata Dwi.  (adv)    

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *