Pertumbuhan Ekonomi 8% Bukan dalam Waktu Dekat

Ilustrasi

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Pada awal-awal pmerintahan Presiden Prabowo Subianto kita mendengar Prabowo cdengan suara menggelegar mengumandangkan akan menciptakan pertumbuhan ekonomi 8%. Omongan pertumbuhan ekonomi 8% tersebut dikampanyek seluruh menteri, wakil menteri, lembaga negara lainnya, sehingga terlihat semacam indokrintisasi.

Tapi setelah setahun, kampanye menciptakan pertumbuhan ekonomi 8% itu hilang seperti ditelan langit dan bumi. Kampanye pertumbuhan ekonomi 8% baru terdengar lagi setelah Purbaya Yudhi Sadewa, ditunjuk Prabowo sebagai Menteri Keuangan, menggaNtikan Sri Mulyani Indrawati.

Melihat Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 yang mengangkat tema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan” yang yang diluncurkan Bank Indonesia, 28 Januari 2026, kita bisa menyimpulkan pertumbuhan ekonomi 8% seperti diidam-idamkan Prabowo bukan dalam waktu dekat.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, pertumbuhan ekonomi 2025 diprakirakan tumbuh dalam kisaran 4,7-5,5%, dan akan meningkat menjadi 4,9-5,7% pada 2026 dan terus naik menjadi 5,1-5,9% pada 2027.

Sementera Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan optimisme terhadap prospek perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global, tapi dia tidak lagi menyebut angka 8%.

Pertumbuhan ekonomi nasional juga menunjukkan tren positif, dengan realisasi di kisaran 5,0–5,4 persen pada beberapa triwulan terakhir. Menkeu melihat masih terdapat ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi tanpa memicu kenaikan suku bunga.

Faktor global bukanlah penentu utama kinerja ekonomi Indonesia. Ini karena sekitar 90 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh permintaan domestik, sementara kontribusi global hanya berkisar 10–20 persen. Oleh karena itu, perlambatan ekonomi global tidak seharusnya dijadikan alasan atas lemahnya kinerja ekonomi dalam negeri.

“Kalau kita 90 persen domestic demand, 10 persen global atau lebih. Mungkin maksimal 15-20 persen. Kalau kita juga ada domestic demand, harusnya tidak ada masalah,” ungkap Menkeu pada Acara Indonesia Fiscal Forum 2026 di Thamrine Nine Ballroom, Selasa (27/01).

Menurut dia, kondisi domestik Indonesia dinilai cukup solid. Inflasi tercatat rendah di kisaran 2,9 persen, dengan inflasi inti sekitar 2,3 persen. Bahkan, jika komponen harga emas dikeluarkan, inflasi diperkirakan hanya sekitar 1,5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan permintaan masih terkendali dan belum memicu overheating ekonomi.

“Jadi sebetulnya demand-nya masih relatif rendah. Belum ada demand core inflation, artinya saya bisa mendorong ekonomi ke tingkat yang lebih cepat lagi tanpa khawatir adanya kenaikan bunga yang terlalu signifikan dari Bank Sentral atau karena inflasi naik dan Bank Sentral ingin memperlambat lagi,” jelas Menkeu.

Menurut Purbaya, untuk mendorong perekonomian, pemerintah juga mengandalkan strategi debottlenecking untuk memperbaiki iklim investasi. Melalui forum rutin lintas kementerian, berbagai hambatan usaha yang dihadapi pelaku bisnis diklaim akan diselesaikan secara cepat dan terukur.

Dengan perbaikan kinerja fiskal, optimalisasi penerimaan pajak dan bea cukai, serta pengendalian defisit anggaran, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia akan terus tumbuh secara berkelanjutan.

“Saya optimis untuk ekonomi dan pasar saham tahun ini. Anda semua jangan tunggu-tunggu lagi untuk berinvestasi atau melebarkan ekspansi bisnis Anda,” pungkas Menkeu.

Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan 

Tag: