Kegiatan ekspor di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan. (foto : Niaga Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – PT Tirta Madu Sawit Jaya (TMSJ) menjadi perusahaan pertama di kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang sukses mengekspor Bungkil Kelapa Sawit (BKS) atau Palm Kernel Expeller (PKE), ke China dan Vietnam.

Perusahan kelapa sawit yang berlokasi di kecamatan Sebuku itu, diketahui sudah dua kali berhasil mengeskpor ampas sawit keluar negeri. Sementara pada eskpor ketiga, PT TMSJ bersama perusahaan Vietnam, sepakat melakukan transaksi pengiriman Bungkil seberat 2.404 ton.

“Hasil akhir pengecekan pengiriman BKS disepakati ekspor Selasa (12/11) negara tujuan Vietnam sebanyak 2.404 ton,” kata Kepala Seksi Fasilitasi dan Bina Pelaku Ekspor Impor Dinas Perdagangan Nunukan Saparuddin.

Menurutnya, angka ekspor bungkil PT TMSJ diperkirakan terus meningkat, seiring adanya kesepakatan kedua belah pihak saling mentaati perjanjian kerjasama. Dimana, salah satunya adalah dilakukan pengecekan barang oleh perusahaan pembeli, sebelum dilakukan ekspor.

Diterangkan, perusahaan pembeli berhak menolak ekspor, jika kualitas BKS dipandang tidak layak (basah). Melalui cara itulah kedua perusahaan saling menjaga kepercayaan dan tentunya, pola kerjasama demikian yang harus dijalankan tiap perusahaan.

“Rencana eskpor 3.300 ton. Cuma kerena cuara hujan dan sebagian KBS basah, pembeli menolak. Makanya dilakukan pergantian BKS baru,” ungkap Saparuddin.

Untuk diketahui, BKS milik PT TMSJ diangkut oleh kapal Quang Minh 18 Saigon asal Vietnam, yang sandar di pelabuhan Tunon Taka Nunukan. Sebelum kapal diberangkatkan, Dinas Perdagangan Nunukan lebih dulu melakukan pengecekan, dalam rangka pembuatan Surat Keterangan Asal (SKA).

Lewat SKA, pemerintah akan mengetahui berapa muatan dan angka nilai ekspor. Namun demikian dalam hal ekspor produk lokal, Pemkab Nunukan tidak mendapatkan penghasilan pajak ataupun pendapatan lainnya, selain pembayaran penerbitan SKA sebesar Rp 25.000. “Sementara ini belum ada pendapatan daerah dari hasil ekspor. Perusahaan hanya harus membayar pajak ekspor di Bea Cukai dan pembuatan SKA, di setorkan lewat Bank,” jelasnya.

Pada kegiatan ekspor ke Vietnam sebelumnya, PT PT TMSJ mengirimkan 3.231,648 ton BKS dengan nilai USS 242,373 atau setara Rp 3,393 miliar. Sedangkan untuk eskpor tujuan China 3.299,749 ton BKS senilai USS 259,030 atau setara Rp3,626 miliar. “Eskpor kali ini sedikit turun, diperkirakan nilai jual 2.404 ton BKS sekitar kurang lebih Rp 3 miliar,” terangnya lagi.

Memiliki lahan luas, sebagai ladang kelapa sawit yang dioperasikan perusahan-perusahan di Kabupaten Nunukan, memiliki potensi sebagai negara pengeskpor BKS. Lewat cara itulah, pemerintah bisa mendapatkan tambahan dana bagi hasil dari pendapatan pajak negara.

BKS sendiri adalah limbah atau ampas dari produksi kelapa sawit, dengan kandungan nutrisi yang cukup baik. Sejumlah negara menggunakan bahan baru ini untuk pembuatan pakan ternak. Karena itulah, ekspor BKS harus dilengkapi hasil pemeriksaan Balai Karantina Pertanian, agar memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan pakan ternak. Dengan luasnya perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Nunukan, potensi ekspor BKS ini masih sangat menjanjikan di masa mendatang.

“Negara tujuan pembeli pasti meminta hasil pengawasan petugas karantina, yang menyatakan produk eskpor bebas dari hama atau serangga,” demikian Saparuddin. (002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *