Pesan Sultan Adji Muhammad Arifin ke Bupati Aulia: “Jangan Biarkan Adat Budaya Etam Hilang”

Bupati Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati Rendi Solihin menghadiri Kaseh Selamat ke-75 Ayahanda Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Sultan Adji Muhammad Arifin. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Pesan Ayahanda Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XXI, Sultan Adji Muhammad Arifin, rupanya sangat membekas di hati dan pikiran Bupati Aulia Rahman Basri semenjak ia memimpin Tanah Kutai bersama Wakil Bupati (Wabup) Rendi Solihin.

Wejangan Sultan tentang pentingnya menjaga adat, adab, dan marwah budaya Etam terus menjadi landasan sikap serta kebijakan Bupati Aulia selama ini. Tujuannya, cuma satu, yakni agar setiap langkah pembangunan daerah tetap selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal Kutai Kartanegara (Kukar).

Hal itu diungkapkan oleh Bupati Aulia Rahman Basri saat menghadiri Kaseh Selamat Milad ke-75 Ayahanda Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XXI, Sultan Adji Muhammad Arifin, yang digelar di Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara, Jalan Monumen Timur, Tenggarong, Senin (9/2/2026).

Acara Kaseh Selamat ini juga dihadiri Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Timur (Kaltim) Seno Aji, Wali Kota Samarinda Andi Harun, Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin, Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani, Sekretaris Daerah Kukar Sunggono Kasnu, serta Kapolres Kukar AKBP Khairul Basyar, bersama tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tamu undangan lainnya, termasuk para wartawan.

“Aul, amun lain Etam, siapa lagi jagai adat budaya Etam? Amun Etam ndik melestarikan adat budaya Etam, hilang adat budaya Etam ini,” ungkap Aulia membeberkan pesan Sultan yang hingga kini terus menjadi pengingat di setiap langkah kepemimpinannya.

Menurut Aulia, pesan ini mengandung makna tanggung jawab besar bagi pemerintah daerah dan seluruh masyarakat Etam untuk tidak menyerahkan pelestarian adat dan budaya kepada pihak lain. Jika bukan masyarakat Kukar sendiri yang menjaga dan merawatnya, maka jati diri daerah berpotensi tergerus oleh perkembangan zaman.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar, kata Aulia, berkomitmen untuk selalu menempatkan adat dan adab sebagai fondasi utama dalam perumusan kebijakan publik dan penyelenggaraan pemerintahan. Nilai-nilai itu diyakini menjadi karakter sekaligus pembeda Kukar dengan daerah lain.

Komitmen ini juga diperkuat dengan adanya peraturan daerah nomor 2 tahun 2016 tentang Pelestarian Adat Istiadat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, yang secara formal mengakui dan melegitimasi peran Sultan sebagai pilar utama pelestarian nilai-nilai luhur dan identitas sosial budaya masyarakat Kukar.

Pada momentum milad ke-75 ini, Aulia atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Kukar turut menyampaikan doa dan harapannya agar Ayahanda Sultan senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, serta kebijaksanaan dalam memimpin pelestarian adat dan tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

“Di usia yang sarat akan kearifan ini, semoga Ayahanda Sultan terus menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi masyarakat Kukar dalam menjaga marwah daerah,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Rendi Solihin turut menyampaikan ucapan selamat dan doa pada Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XXI, Sultan Adji Muhammad Arifin. Peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud penghormatan dan rasa syukur atas peran Sultan sebagai pemersatu masyarakat serta penjaga nilai-nilai kebudayaan daerah.

“Hari ini kita berada di Kedaton Kukar untuk menyampaikan Kaseh Selamat dan ucapan selamat ulang tahun ke-75 kepada Ayahanda Sri Paduka Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Adji Muhammad Arifin,” terangnya.

Ia berharap, di usia ke-75 tahun ini, Ayahanda Sultan senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan, baik bagi beliau dan keluarga, maupun bagi masyarakat Kukar dan Kaltim secara umum.

“Semoga usia beliau membawa keberkahan untuk Ayahanda Sultan dan keluarga, serta keberkahan bagi Kukar dan Kaltim,” katanya.

Rendi juga menegaskan bahwa Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura merupakan figur pemersatu dan teladan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menjaga dan mempertahankan kebudayaan daerah.

“Beliau adalah pemersatu kita semua, role model kita, dan sumber inspirasi, terutama bagi anak-anak muda dalam mempertahankan kebudayaan yang ada di Kukar. Semoga beliau terus menjadi pelita dan cahaya bagi Kukar,” pungkasnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: