Pesawat Angkut 22 Orang Hilang Kontak di Nepal

Gambar selebaran menunjukkan Tara Air DHC-6 Twin Otter, nomor ekor 9N-AET, di Simikot, Nepal 1 Desember 2021. Gambar diambil 1 Desember 2021. (Madhu Thapa/Handout via REUTERS)

KATHMANDU.NIAGA.ASIA — Sebuah pesawat berusia 43 tahun berpenumpang 22 orang yang dioperasikan oleh salah satu maskapai penerbangan swasta hilang di pegunungan Nepal pada hari Minggu. Pejabat mengatakan cuaca mendung menghalangi helikopter pencari terbang ke area penerbangan di lokasi terakhir yang diketahui.

Pesawat Tara Air lepas landas dari kota wisata Pokhara, sekitar 125 km (80 mil) barat ibu kota, Kathmandu, menuju Jomsom, sekitar 80 km ke barat laut, kata para pejabat.

Situs pelacak penerbangan Flightradar24 mengatakan pesawat De Havilland Canada DHC-6-300 Twin Otter yang hilang beregistrasi 9N-AET dan melakukan penerbangan pertamanya pada April 1979.

“Satu helikopter pencari kembali ke Jomsom karena cuaca buruk tanpa menemukan lokasi pesawat itu,” kata Otoritas Penerbangan Sipil Nepal dalam sebuah pernyataan, dikutip niaga.asia dari REUTERS, Minggu.

“Helikopter siap lepas landas untuk pencarian dari Kathmandu, Pokhara dan Jomsom setelah kondisi cuaca membaik. Tim pencari tentara dan polisi telah berangkat menuju lokasi,” ujar otoritas penerbangan itu menambahkan.

Maskapai itu mengatakan pesawat itu membawa empat orang India, dua orang Jerman dan 16 orang Nepal, termasuk tiga awak. Tujuh dari penumpang adalah perempuan.

Pesawat kehilangan kontak dengan menara kontrol lima menit sebelum dijadwalkan mendarat di Jomsom, sebuah situs wisata dan ziarah yang populer, kata seorang pejabat maskapai yang tidak mau disebutkan namanya.

Kantor cuaca negara itu mengatakan telah terjadi awan tebal di daerah Pokhara-Jomson sejak pagi.

Pejabat polisi Prem Kumar Dani mengatakan tim penyelamat dan pencarian darat telah dikirim ke daerah dekat Gunung Dhaulagiri, puncak tertinggi ketujuh di dunia dengan ketinggian 8.167 m (26.795 kaki).

Nepal, menjadi tempat bagi delapan dari 14 gunung tertinggi di dunia, termasuk Everest, memiliki rekor kecelakaan udara. Cuacanya dapat berubah secara tiba-tiba dan landasan terbang biasanya terletak di daerah pegunungan yang sulit dijangkau.

Pada awal 2018 lalu, penerbangan US-Bangla Airlines dari Dhaka ke Kathmandu jatuh saat mendarat dan terbakar, menewaskan 51 dari 71 orang di dalamnya.

Pada tahun 1992, 167 orang di dalam pesawat Pakistan International Airlines (PIAa.PSX) tewas ketika menabrak bukit saat mencoba mendarat di Kathmandu.

Sumber : Kantor Berita REUTERS | Editor : Saud Rosadi

 

Tag: