Peserta BPJS-Kesehatan Gratis Alat Kontrasepsi

aa
Drs. Eli Kusnaeli, MMPD (tengah) didampingi Hj Encik Widyarni, SKM, MQIH (kanan) dipandu Rahmad memaparkan perkembangan perkembangan program Keluarga Berencana dan alat kontrasepsi, serta peran bidan di Kaltim (Foto Intoniswan)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Pemegang Kartu Indonesia Sehat (KIS) atau peserta BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial)-Kesehatan baik yang mandiri maupun iurannya dibayarkan pemerintah  gratis mendapatkan alat kontrasepsi. Sedangkan dokter dan bidan yang melakukan pemasangan alat kontrasepsi mendapat insentif dari dana kapitasi yang dibayar BPJS-Kesehatan.

Hal itu diungkapkan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Timur, Drs. Eli Kusnaeli, MMPD dalam Media Gathering Memperingati Hari Kontrasepsi se-Dunia, 2 Oktober di Samarinda, Selasa (2/10). Media Gathering dipandu Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana Kaltim, Rahmatd  dan dihadiri juga Ketua Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kalimantan Timur, Hj Encik Widyarni, SKM, MQIH.

Berdasarkan statistik terakhir  BKKBN Kaltim, pada wal tahun 2018 terdapat PUS (Pasangan Usia Subur) di Kaltim sebanyak 571.806. Sedangkan PUS yang sudah menjadi peserta aktif (PA) KB sebanyak 397.709, atau 69,6 persen.  Alat kontrasepsi yang dominan dipakai PUS perempuan dalam ber-KB adalah pil, suntik, dan Intra-Uterine Device (IUD). Sedangkan pria sebagian besar memilih kondom dan sebagian kecil vasektomi.

“Khusus untuk pria, animo untuk menjadi pserta KB dari tahun ke tahun ada gejala meningkat walu persentasenya masih dikisaran 2 persen. Pria peserta KB banyak tersebar di Samarinda, Bontang, dan Kutai Timur, bahkan mereka sudah punya paguyuban (komunitas) sendiri,” kata Eli.

Menurut Eli, meningkatkatnya jumlah dokter dan kualitas bidan di Kaltim, sangat meberi dampak positif terhadap kepesertaan KB. Calon atau peserta menjadi mudah berkonsultasi dalam memilih alat kontrasepsi yang cocok dengan hormonnya. “Peserta KB yang juga pemegang KIS tidak bayar berkonsultasi dengan dokter maupun bidan dalam memilih alat kontrasepsi,” tambahnya.

Ia juga melihat di Kaltim kesadaran pasangan usia subur mengatur kelahiran anak semakin membaik, dimana di tahun 2017 di Kaltim rata-rata PUS mempunyai anak 2,6, tidak lagi ada pasangan yang punya anak 5-6. “Rata-rata 2,6 itu sudah termasuk bagus, tapi untuk menjadi 2 anak masih perlu penyuluhan yang berkesinambungan,” kata Eli. “Animo orang desa lebih besar dibandingkan orang kota,” ungkapnya.

Sementara itu Encik Widyarni mengungkapkan, bidan yang ada di pelosok desa sekarang ini adalah hasil pendidikan yang sudah modern, sehingga sudah bisa menjadi ujung tombak dalam mesukseskan progam KB. Ilmu pengetahuannya juga jauh lebih lengkap dibanding bidan zaman dulu, sehingga bisa menjadi tempat berkonsultasi bagi PUS yang ingin ber-KB. “Sinergi bidan dengan BKKBN dalam mesukseskan progam KB bagus,” katanya. (001)