
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Pada tingkat kabupaten/kota di Kalimantan Timur (Kaltim), Kabupaten Kutai Kartanegara merupakan wilayah dengan jumlah pengguna teknologi tertinggi baik secara total (26.123 orang) maupun pada kelompok usia 19–39 tahun (5.132 orang).
Namun demikian, di beberapa wilayah seperti Kabupaten Paser dan Berau, jumlah petani usia 19–39 tahun yang tidak menggunakan teknologi masih lebih besar dibandingkan yang menggunakan. Di Kabupaten Paser, misalnya, petani usia 19–39 tahun yang menggunakan teknologi berjumlah 3.002 orang, sedangkan yang tidak menggunakan mencapai 7.180 orang, menunjukkan bahwa potensi adopsi teknologi pada kelompok usia produktif masih belum optimal.
Demikian Analisis Isu Terkini Provinsi Kalimantan Timur 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim tentang Potret Petani Kalimantan Timur 2025 yang dipublikasikan akhir Desember 2025.
Teknologi pertanian adalah penerapan ilmu teknik dan sains untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan dalam kegiatan pertanian, mencakup penggunaan alat-alat mekanis (traktor, drone penyemprot), sistem irigasi pintar, sensor, hingga aplikasi digital untuk manajemen lahan dan pemantauan tanaman, dengan tujuan modernisasi agroindustri dan peningkatan ketahanan pangan.

Menurut Kepala BPS Kaltim, DR. Yusniar Juliana, SST, MIDEC, adopsi teknologi digital di sektor pertanian untuk wilayah Provinsi Kaltim menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antar kabupaten/kota.
Petani pengguna teknologi digital di Kaltim didominasi oleh kelompok usia 39 tahun ke atas, dengan total 59.318 orang, dibandingkan kelompok usia 19–39 tahun sebanyak 15.941 orang dan usia di bawah 19 tahun yang hanya 48 orang.
“Secara keseluruhan, jumlah petani yang menggunakan teknologi mencapai 75.307 orang, jauh lebih besar dibandingkan petani usia 19–39 tahun yang tidak menggunakan teknologi, yaitu 29.626 orang,” ungkapnya.

Pola tersebut diperjelas melalui grafik yang secara khusus membandingkan petani usia 19–39 tahun yang menggunakan dan tidak menggunakan teknologi. Hampir seluruh kabupaten/kota, jumlah petani usia 19–39 tahun yang tidak menggunakan teknologi masih lebih dominan.
Di Kabupaten Kutai Kartanegara, meskipun jumlah pengguna teknologi usia 19–39 tahun tergolong tinggi (5.132 orang), jumlah non-pengguna tetap lebih besar (7.404 orang). Pola serupa terlihat di Kabupaten Paser dengan total sebanyak 3.002 pengguna berbanding 7.180 non-pengguna dan Kabupaten Berau dengan total sebanyak 1.141 pengguna dibanding 5.876 non-pengguna.
Sebaliknya, di wilayah dengan basis pertanian relatif kecil seperti Kabupaten Mahakam Ulu dan Kota Samarinda, selisih antara pengguna dan non-pengguna teknologi usia 19–39 tahun terlihat lebih sempit.
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun kelompok usia produktif memiliki potensi besar sebagai agen modernisasi pertanian, tingkat adopsi teknologi digital pada kelompok ini masih menghadapi tantangan signifikan di sebagian besar kabupaten/kota di Kalimantan Timur.
Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan
Tag: Pertanian