p

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Apabila tidak terjadi “tsunami” politik sebelum pemilihan  gubernur Kaltim, tanggal 27 Juni nanti, hanya dua pasangan calon (paslon) yang bersiang ketat. Paslon H Rusmadi-H Syafaruddin disaingi H Isran Noor-H Hadi Mulyadi. Elektabiltas Rusmadi-Syafaruddin hingga minggu pertama Juni 2018 sebesar 24,5% dan dibelakangnya Isran-Hadi 22,3%, atau hanya berselisih 2,2%.

Hasil Temuan dan Analisis Survei Pemilihan Gubernur Kaltim yang diselenggarakan lembaga survei Lingkar Survei Indonesia (LSI) Denny JA bekerjsasama dengan SIGI (Survei Strategi Indonesia) dan mitra lokalnya di Kaltim, JIP (Jaringan Isu Publik) diungkapkan Fadhli Fakhri Fauzan dan Dito Arif, peneliti LSI dalam Konferensi Pers di Samarinda, Rabu (20/6/2018).

LSI Denny JA melakukan survei dari tanggal 2-8 Juni 2018 di Kaltim. Metode sampling yang dipakai adalah; multistage random sampling. Jumlah responden  600 responden proporsional se-Kaltim dengan wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Margin of error lebih kurang 4,1%.

LSI Denny JA: Mayoritas Perempuan Pilih Rusmadi-Syafaruddin

Urusan Pendaftaran Pemilih, LSI Denny JA Puji Kinerja KPU Kaltim

Menurut LSI Denny JA, elektabilitas dua paslon lainnya, yakni H Syaharie Jaang-H Awang Ferdian Hidayat pada saat yang sama hanya 20,9% dan paslon H Andi Sofyan Hasdam-H Rizal Effendi diangka 20,7%. Kedua psalon ini elektabilitasnya tertinggal lebih kurang sekitar 2-3% dari paslon Isran-Hadi dan Rusmadi-Syafaruddin. “Meski demikian peluang keempat paslon masih sama sebab, margin error dari survei lebih kurang 4,1% dan responden yang merahasikan pilihannya ada 11,6%,” kata Fadhli.

Tentang “tsunami” politik yang dimaksudnya, Fadhli mengatakan, bentuknya bisa berupa adanya penangkapan oleh aparat penegak hukum terhadap paslon berupa (OTT) dalam kasus korupsi dan gratifikasi, tersangkut kasus narkoba, baik paslon itu sendiri maupun keluarga intinya, atau tertangkap basah dalam perbuatan tercela.

Berdasarkan hasil survei dan temuan LSI Denny JA, variabel lain yang bisa menggerus elektabiltas Rusmadi-Syafaruddin adalah “money politik”. Dari 600 responden yang ditanya soal “money politik” mayoritas menganggap tidak etis dan bisa mempengaruhi pilihan. Sebagian responden 38,9% mengaku akan mengambil uang “money politik” namun pilihannya masih tergantung pada besaran “money politik” yang diterima. Misalnya dari paslon X paling besar, maka akan memilih X. Tapi ada juga responden mengaku akan mengambil semua uang “money politik” tapi pihannya tetap sesuai “hati nuraninya”.

Tren elektabiltas keempat paslon gubernur Kaltim, kata LSI Denny JA, sejak Februari-April-dan Juni 2018, naik turun dan ada yang stagnan. Paslon yang naik terus elektabiltasnya adalah Rusmadi-Syafaruddin, dari semula 17,1% di Pebruari, naik jadi 23,7% di April, dan di Juni 24,5%. Isran-Hadi naik turun (dari 18,2%, naik mencapai 26,3% di April, dan di Juni turun 22,3%).

Syaharie Jaang-Awang Ferdian menurun, semula di bulan Pebruari  26,1%, di bulan April turun jadi 22,8%, dan di Juni turun lagi keangka 20,9%. Paslon Sofyan-Rizal dari semula 14,5%, pada April naik jadi 20,1%, kemudian di bulan Juni jadi 20,7%.

LSI Denny JA juga menemukan tingkat popularitas cagub maupun cawagub Kaltim dimata respondennya hampir sama. Keempat c agub dikenal 65% sekian responden, tapi tak ada yang mencapai 70%. Untuk cawagub malahan Syafaruddin paling dikenal di bulan Juni ini, popularitasnya mencapai 69,8%, tiga lainnya, Hadi Mulyadi 56,8%, Awang Ferdian 62,5%, dan Rizal 60,7%. “Meski demikian, karena masih ada 1 kali lagi debat paslon, angka popularitsanya bisa saja berubah,” kata LSI Denny JA. (001)

 

 

Berita Terkait