Catatan: SB Silaban

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kaltim “putus cinta” dengan pasangan Rudi Mas’ud – Aji Seno. Yang menjabat Gubernur dan Wagub Kaltim.
Yang menyatakan itu Syarifudin, Ketua PKB Kaltim. Intinya: Tak akan lagi mengusung Rudy-Seno di Pilgub 2029.
“Sudah tidak sejalan,” ujar Udin, panggilan akrab Syarifudin kepada saya.
Di media sosial, saya baca respons netizen tentang sikap PKB itu. Booom……..banyak yang negatif. Bahkan mengolok-olok.
Ada yang bilang sikap PKB itu: terlalu cepat. Terlalu pagi.
Yang lain bilang: kalau DPP PKB dibawakan duit sekoper, (Udin) mau apa?
Banyak komentar netizen itu menggambarkan tipisnya kepercayaan terhadap parpol. Yang mereka sebut: asal duitnya cocok, bisa diatur. Atau ini: Pagi kedele, sore tempe.
Sebagai warga Kaltim, saya kecewa dengan sikap PKB. Partai ini termasuk di gerbong awal pengusung Rudy-Seno. Sekarang, paling awal memutuskan berubah arah.
Tak ada pelajaran positif dari sikap.PKB itu. Sama sekali tidak. Selama setahun Rudy jadi gubernur, kita nyaris tak mendengar ada koreksi tajam dan mendalam dari PKB terhadap kepemimpinannya. Sebagai partai pengusung, sikap itu bisa dipahami. Susah kan mengkritisi usungannya.
Tetapi karena mendadak PKB bilang ogah ngusung Rudy-Seno lagi, saya mau bilang: jangan gitulah PKB. Tanggungjawabi dulu pilihan Anda. Awasi dulu kerja dan kinerja Rudy-Seno.
Saya juga melihat, dengan sikapnya, PKB-lah yang justru rugi.
Kenapa? Ini: PKB bisa dianggap sebagai partai yang lari dari tanggung jawab. Mengusung keduanya, tapi tak mengawasi. Tak ada koreksi. Tak ada evaluasi. Eh baru setahun, langsung berubah sikap. Publik bisa menganggap:: PKB tak bertanggung jawab atas pilihannya.
Apakah Rudy-Seno rugi PKB memutuskan cinta? Belum tentu. Keduanya bahkan bisa memanfaatkan momen ini untuk menarik simpati publik. Caranya? Dengan menjadi pihak yang terzalimi.
Kok? Rudy-Seno bisa bilang: kami ndak dikoreksi, ndak dikritik, kok sudah “memutuskan” hubungan? Kalau kami ada salah, kasih tahu dong. Jangan langsung begini.
Rudy-Seno masih empat tahun lagi. Berbagai hal bisa terjadi dalam perjalanan keduanya. Terutama berbagai kebijakan-kebijakan mereka. Dalam perjalanan itulah koreksi dan kritik dari parpol2 sangat diperlukan. Karena mereka punya saluran dan wewenang melakukannya.
Semoga PKB tetap bertanggungjawab atas pilihannya. Dengan mengawasi Rudy-Seno secara ketat. Juga objektif. Jangan gara-gara 2029 berniat tak bersama lagi, lalu asal main hantam.
Menilik Pilgub Kaltim 2024, saya menduga, Rudy akan berusaha keras lagi menyapu bersih parpol-parpol agar menjadi pengusung dan pendukungnya.
Biaya? No problem. Jejaring? Pasti banyak. Lima tahun sebagai gubernur, Rudy punya banyak kesempatan “menservis” parpol-parpol.
Kok saya hanya menyebut Rudy? Seno kemana? Saya menduga, Seno akan menjadi penantang Rudy. Sebaiknya memang begitu. Masak kader partainya presidenz jadi calon orang nomor 2 lagi. Gengsi dong.
Balik ke sikap PKB: sedikitpun saya tak akan heran jika di 2029, PKB/Udin akan kembali mengusung Rudy.
Namun kalau benar tak mengusung, baguslah. Biar rame Pilgubnya. Biar banyak pilihan bagi warga.@
Tag: OpiniPKB