Pemeriksaan sampel yang dilakukan DLH Kukar di Sungai Nangka (foto : HO/Jatam Kaltim)

KUTAI KARTANEGARA.NIAGA.ASIA – Polda Kaltim melakukan pemeriksaan dugaan pencemaran sungai oleh PT Kutai Energi, di Muara Jawa, Selasa (30/4). Bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Kartanegara, pemeriksaan dilakukan terkait pelaporan pencemaran sungai Nangka dan ribuan pohon Sahang (Merica) yang mati, milik para petani di Kelurahan Teluk Dalam, Kecamatan Muara Jawa.

“Puluhan petani yang tergabung dalam Koalisi Anti Mafia Tambang dan Sawit ikut mengawal proses pemeriksaan, dan pengambilan sampel air di areal Sungai Nangka,” kata Dinamisator Jatam Kaltim Pradarma Rupang, dalam keterangan tertulis diterima Selasa (30/4) malam.

Aktivitas pertambangan PT Kutai Energi dengan Nomor 540/006/IUP-OP/MB-PBAT/VI/2009, berada di bawah bendera TOBA Sejahtera Group, yang diduga telah mencemari, merampas dan menggusur laha kelompok tani di Kecamatan Muara Jawa, Kutai Kartanegara.

Sebelumnya tahun 2015, tim koalisi juga sudah pernah melakukan pengujian sampel air di Sungai Nangka. Pencemaran sumber-sumber air milik warga Kampung Sungai Nangka yang dilakukan oleh perusahaan Batubara PT Kutai Energi, yang berada di bagian hulu sungai.

“Hal ini dibuktikan dengan hasil uji laboratarium yang dilakukan oleh Jatam Kaltim, bersama warga dengan membawa sampel ke Laboratorium di Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) UPTD laboratorium kesehatan Provinsi Kalimantan Timur,’ ujar Rupang.

Pengujian kualitas air di Sungai Nangka ini dilakukan untuk menepis klaim pihak perusahaan dan BLHD Kukar, yang menyebutkan tidak ada pencemaran llingkungan melalui berita acara verifikasi yang diadakan dan ditandatangani oleh BLH Kukar.

Dinyatakan bahwa tidak terdapat aktivitas pencemaran lingkungan di lahan tambang PT KE, dengan dalih perusahaan belum menambang di lahan yang dimaksud. Kepala Disbunhut Kukar Marli yang juga menyebutkan bahwa PT PKU tidak bermasalah.

Hasil uji Lab menunjukan dalam lokasi sampling yang dilakukan di Sungai Nangka yang sudah dilaporkan warga mengenai dugaan pencemaran ini membenarkan parameter pH 5,4 dengan standar baku mutu adalah 6-9, Total Suspended Solid (TSS) 92,4 standar baku mutunya adalah 50 atau 92 kali melebihi baku mutu.

Untuk kandungan logam beratnya yaitu Mangan (Mn) angka melebihi baku mutu 0, 354 standarnya adalah 0,1 atau 3 kali melibihi baku mutu. Besi (Fe) 2,676 jjauh melebihi standar baku mutu yang ditetapkan adalah 0,5 atau 8 kali lipat dari batas baku mutu.

“Sungai Pelupu temuannya adalah parameter pH 5,9 dengan standar baku mutu adalah 6-9, untuk kandungan logam beratnya yaitu Mangan (Mn) angka melebihi baku mutu 0, 1746 mg/L standarnya adalah 0,1 atau 1 kali lipat melebihi dari baku mutu,” terang Rupang.

Untuk sumur-sumur milik warga yang juga digunakan keperluan sehari-hari yaitu sumur yang berada di kebun sahang atau merica nilai pH adalah 2,8 atau 2 kali lipat melebihi dari baku mutu. Mangan 9, 018 mg/L atau 18 kali lipat melebihi dari baku mutu, dan Besi 30,178 mg/L atau 30 kali lipat melebihi dari baku mutu. Sumur Pak Tajang untuk logam beratnya melebihi baku mutu yaitu Besi 5, 351 mg/L baku mutunya adalah 1,0 atau lima kali lipat dari baku mutu yang dianjurkan.

Sampel di sumur pak Gondrong nilai pH adalah 2,8 atau 2 kali lipat melebihi dari baku mutu dan Mangan (Mn) 1,012 dari baku mutu 0,5 mg/L atau 2 kali lipat.

“Kami meminta pihak terkait Dinas Lingkungan Hidup dan kepolisian, untuk tidak melakukan tipu-tipu atas kejahatan lingkungan dan pencemaran di Sungai Nangka, yang menjadi sumber air dan ribuan pohon Merica yang mati,” demikian Rupang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *