NUNUKAN, NIAGA.ASIA-Setelah mendapat kecaman dan  penolakan dari organsiasi keagamaan dan masyarakat setempat, panggung hiburan kontes  busana Waria yang digelar di lapangan Tanah Merah jalan Lie Hie Djung, Kecamatan Nunukan, akhirnya dibubarkan Polsek Kota Nunukan.

Kapolres Nunukan AKPB Jepri Yuniardi melalui Kasubag Hubungan Masyarakat (Humas) Polres Nunukan Iptu M. Karyadi mengatakan, kontes busana waria dibubarkan setelah menerima banyak  protes dari para pemuka agama dan masyarakat Nunukan. “Tidak itu saja,  protes juga disampaikan sejumlah anggota DPRD Nunukan,” ujarnya.

Kontes  busana waria sebagaimana diiklan pihak panita dilaksanakan pada 30 Januari pukul 20:00 hingga 22:00. Acara ini digabungkan dengan wisata kuliner berbahan baku semangka sehari sebelumnya.

Baik acara wisata kuliner ataupun kontes waria, tidak dibekali  izin keramaian dari Polsek ataupun Polres, Panitia acara begitu saja menggelar acara tanpa pemberitahuan adanya penyelenggaraan keramaian. “Tidak memiliki izin Kepolisian, apalagi acara mendapat protes masyarakat karena dipandang tidak memberikan nilai pendidikan,” kata Jepri.

Permintaan pembatalan acara awalnya ramai dibahas di  medsos warga Nunukan, dimana dalam giat tersebut panitia mengupload lomba wisata kuliner dan kontes busana waria. Bersamaan dengan itu, banyak tanggapan ormas Islam yang mengecam acara.

Begitu pula beberapa anggota DPRD Nunukan yang meminta hendaknya giat tersebut dipertimbangkan dengan alasan kurang mendidik masyarakat serta cenderung kearah legalitas komunitas LGBT ataupun kelainan prilaku wujud manusia sesungguhnya. “Jadi malam sebelum kami bubarkan, ormas PP Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) Nunukan mengadakan rapat di Mushola Al Huda,” kata Kapolres.

Hasil pertemuan ormas Islam dan masyarakat, tambah Kapolres, sepakat menentang dan melarang giat kontes fashion waria. Atas kesepakatan itu Polsek Kota Nunukan memanggil panitia penyelenggara ke Mapolsek Nunukan untuk diberikan himbauan.

Himbauan bersifat tegas bahwa Kepolisian Nunukan tidak mengizinkan giat dengan pertimbangan berbagai hal menyangkut stabilitas keamanan. Apalagi banyak penolakan yang diarahkan ke jalur agama atau keyakinan umat manusia. “Pertimbangan kita keamanan. Kami juga tidak ingin sampai muncul reaksi keributan massa agama ataupun massa lainnya menentang acara itu,” bebernya.

Terlepas dari penolakan giat, Kapolres Nunukan dalam himbaunya menyarakankan sepaturnya panitai acara melaporkan lomba-lomba ke instansi terkait misalkan Dinas Pariwisata setempat, terpenting lagi segala kegiatan harus diketahui pemerintah daerah.“Malam itu juga kami datang kelokasi acara, kami buka dekorasi yang sudah terpasang, kami juga melarang kegiatan lainnya yang digelar tanpa ijin,” tegasnya. (002)

Berita Terkait