ilustrasi sarang burung walet. (istimewa/net)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Pemerintah memutuskan memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur. Rencana itu dinilai berdampak positif bagi industri sarang walet.

Pasalnya, perubahan dari sektor peluang bisnis, pusat ekonomi, industri serta kependudukan, bakal berangsur ikut berpindah. Sebab inilah, yang mengharuskan masyarakat Kaltim khususnya, mulai mempersiapkan diri sejak jauh hari.

Apalagi, Balai Karantina Hasil Pertanian saat ini tengah mempersiapkan komoditas unggulan non-migas, untuk diimpor ke luar Kaltim. Salah satunya sarang walet.

Kasubsi Pelayanan Operasional Balai Karantina Hasil Pertanian Stasiun Karantina Kelas I Samarinda Muthohar Udin mengatakan, ada pemberlakuan syarat dan aturan, yang berlaku di negara tujuan ekspor. Kemudian, jalur ekspor sarang burung walet dari Kaltim juga belum banyak, dan harus melalui lintas area.

Dia mencontohkan, seperti di China. Sarang walet yang akan diekspor harus mendapat perlakuan khusus. Semisal, suhu panas diatur pada 70 derajat Celcius salama 3,5 detik, untuk menonkatifkan virus Avian Influenza, atau flu burung.

Serta, kandungan nitrit produk yang diekspor tidak lebih dari 30 ppm, serta jaminan asal-usul (traceability) yang didapat sarang walet sampai ke rumah walet.

“Memang yang terpenting sekarang harus ada tempat pemrosesannya (sarang burung walet) yang bisa registrasi. Dari sini dan China. Sampai saat ini untuk wilayah Kaltim belum ada,” kata dia, belum lama ini.

Muthohar menambahkan, hal ini menjadi bagian penting, agar sarang walet dari Kaltim bisa memenuhi persyaratan dan aturan dari negara China. Selain itu, sarang walet mampu langsung diekspor tanpa melalui lintas area atau daerah yang memiliki tempat pemprosesan lebih dulu.

Untuk pengiriman sarang burung walet melalui Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Samarinda, terjadi peningkatan jumlah yang sangat signifikan antara tahun 2017 sampai 2018. Lonjakan hingga 761,5 persen.

“Tahun 2017 pengiriman keluar sarang burung walet adalah sejumlah 839 kg dengan frekuensi 33 kali pengiriman, sementara pada tahun 2018 volume keluar yang tercatat adalah 7.228 kg dengan frekuensi 130 kali pengiriman. Terdapat kenaikan pengiriman sejumlah 761,5 persen,” jelasnya.

Meningkatnya pengiriman, menurutnya disebabkan beberapa faktor, antara lain terbukanya pasar ekspor China yang melalui luar Kaltim, seperti Jawa. Ditambah, semakin banyaknya pelaku-pelaku usaha industri sarang walet, yaitu produksi dan pengiriman di Samarinda hingga Kabupaten/Kota lain di Kaltim.

Turut pula mendukung, beroperasinya Bandara APT Pranoto di Samarinda. Muthohar juga menyebut tahun 2019 saja, pengiriman sarang burung walet kembali meningkat. “Di tahun 2019 sampai dengan Oktober 2019, pengiriman sarang burung walet yang tercatat di kami, sejumlah 7.015 Kg dengan frekuensi sebanyak 234 kali pengiriman, ” bebernya.

Muthohar menilai, peningkatan itu dikarenakan permintaan sarang burung walet yang tinggi dan cenderung meningkat dari tahun 2014-2019. “Artinya terjadi kenaikan sebesar dari tahun-tahun sebelumnya, dan masih akan bertambah lagi kedepan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Muthohar berharap potensi sarang burung walet di Kaltim ini bisa dirasakan para pelaku usaha, agar bisa mendapat hasil yang maksimal. Mulai dari segi harga akan lebih tinggi ketika sudah dilakukan pemrosesan hingga nantinya langsung di ekspor tanpa melalui area lain.

“Tapi, itu pun jika regulasi dan persyaratannya sudah mampu dipenuhi, maka bisa dipastikan produk sarang burung walet Kaltim bisa menembus pasar ekspor negara lainnya,” katanya.

Kemudian, dia juga berharap potensi ini dapat semakin diperhatikan oleh pemerintah, dalam upaya peningkatan penghasilan asli daerah (PAD). Apalagi, menurutnya, kuantitas serta kualitas sarang walet yang diproduksi Kaltim sangat mampu untuk bersaing.

“Potensi seperti ini, semoga bisa ditindaklanjuti oleh pihak terkait, agar tempat pemrosesan sarang walet bukan hanya rencana,” tutupnya. (009)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *