Produk Olahan KWT Kukar Tumbuh, Namun Akses Pasarnya Masih Terbatas

Pengurus KWT Kukar 2025–2030, Lailatun Nida. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

TENGGARONG.NIAGA.ASIA– Perkembangan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kini tak lagi sebatas aktivitas budidaya di lahan pekarangan saja. Nyatanya, KWT telah bertransformasi menjadi pelaku usaha produktif yang bisa mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai dan masuk dalam kategori usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Transformasi tersebut disampaikan dalam Forum Konsultasi Publik (FKP) Rancangan Awal RKPD 2027 Kukar yang digelar selama dua hari, mulai tanggal 11-12 Februari 2026 di Ruang Rapat Ing Martadipura Lantai I Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kukar, Tenggarong.

Salah satu pengurus KWT Kukar 2025–2030, Lailatun Nida, mengatakan, perkembangan KWT selama ini menunjukkan peningkatan signifikan, baik dari sisi produksi maupun pengolahan hasil.

“Perkembangan KWT di Kukar sudah sampai kepada UMKM. Jadi UMKM itu tidak hanya di luar dari hasil-hasil pertanian, tapi dari hasil pertanian pun ada,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah KWT di wilayah Kecamatan Loa Janan dan Anggana yang telah memproduksi jamu dan herbal dalam bentuk kapsul. Produk tersebut merupakan hasil inovasi pengolahan tanaman obat yang sebelumnya hanya dimanfaatkan secara tradisional.

Meski telah memiliki produk olahan sendiri, Lailatun mengaku bahwa eksposur dan akses pasar masih menjadi tantangan bagi KWT. Pemasaran produk sebagian besar masih dilakukan secara konvensional melalui pasar tradisional dan kegiatan pasar murah yang difasilitasi perangkat daerah.

“Kami rutin mengikuti event pasar murah yang dilaksanakan OPD terkait. Bahkan beberapa kali kami dibawa Dinas Pertanian Provinsi untuk mewakili Kukar. Namun memang untuk pemasaran berbasis teknologi masih perlu ditingkatkan,” jelasnya.

Secara kelembagaan, KWT merupakan bagian dari Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) yang menaungi berbagai kelompok usaha tani di sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan hingga perikanan.

Pada awal pembentukannya, KWT berfokus pada pemanfaatan pekarangan rumah tangga untuk membantu kebutuhan dapur keluarga. Namun seiring perkembangan pembangunan daerah, peran ini meluas menjadi kegiatan usaha yang memberikan kontribusi terhadap ekonomi keluarga dan desa.

“Wanita tani itu terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memberikan sumbangan cukup besar dalam pembangunan pertanian, khususnya di Kukar,” tegasnya.

Selain itu, ia membeberkan bahwa KWT juga terlibat aktif dalam mendukung program peningkatan produksi pertanian. Bersama penyuluh, mereka turut berperan dalam pencapaian target Indeks Pertanaman (IP) dan Laporan Luas Tanam (LLT) sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan daerah.

Kendati demikian, KWT masih menghadapi sejumlah kendala dibalik perkembangan itu, terutama soal peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) khususnya penguasaan teknologi informasi dan pemasaran digital.

“Selama ini kami masih banyak melakukan pemasaran secara konvensional. Ke depan tentu perlu pelatihan dan pendampingan agar produk kami bisa menjangkau pasar yang lebih luas dan memiliki nilai tambah lebih tinggi,” terangnya.

KWT berharap adanya dukungan kebijakan dan program konkret dari pemerintah daerah untuk memperkuat hilirisasi hasil pertanian melalui UMKM berbasis kelompok wanita tani.

Menanggapi itu, Plt Kepala Bappeda Kukar, Syarifah Vanesa Vilna, menegaskan bahwa Forum Konsultasi Publik menjadi ruang untuk menyerap aspirasi dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk KTNA dan KWT.

“Kami mendengar saran dan masukan dari seluruh stakeholder supaya perencanaan pembangunan daerah benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan dan selaras dengan RPJPD maupun RPJMD Kukar,” tutupnya.

Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan

Tag: