Sekolah Penggerak Perlu Perencanaan dan Mekanisme Kerja yang Jelas

Rusman Yaq’ub Ketua Komisi IV DPRD Kaltim. (Foto Muhammad Fahrurozi /Niaga.Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIAKetua Komisi IV DPRD Kaltim, DR. H Rusman Yaq’ub menilai  bagus program Sekolah Penggerak yang digagas Kemendikbud, tapi untuk berhasil perlu dibarengi dengan perencanaan dan mekanisme kerja yang jelas.

“Sering kali, suatu program itu gagal karena terlalu bereuforia pada gagasannya. Bukan pada implementasi teknis yang seharusnya dirancang atau disiapkan secara detail,” ungkap Rusman kepada awak media pada Rabu (7/4/2021).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan program Sekolah Penggerak pada (1/2/2021). Di Kaltim, ada 2 sekolah yang ditetapkan Kemendikbud sebagai Sekolah Penggerak yakni SMA 1 Samarinda dan SMA 1 Penajam Paser Utara (PPU).

Program tersebut memiliki tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang mencakup kompetensi literasi, numerasi, serta karakter. Sekolah Penggerak mendorong transformasi antara sekolah swasta dan negeri bergerak lebih maju.

Dirilis dari Pemprov Kaltim pada Februari lalu, Pemprov tidak akan merotasi kepala sekolah, guru, atau tenaga administrasi di sekolah yang telah ditetapkan sebagai sekolah penggerak selama 4 tahun. Melalui program itu, diharapkan para kepala sekolah dan guru bisa terlibat aktif dan saling berkoordinasi, terutama dalam hal pembelajaran.

Menurut Rusman, Sekolah Penggerak itu kuncinya ada di tenaga pendidik. Oleh sebab itu, tenaga pendidik yang harus diatur dengan baik. Kalau pendidiknya tidak disiapkan, enggak ada gunanya.

Ada 3 unsur kunci pendidikan. Pertama soal sarana dan prasarana, kemudian tenaga kependidikan, dan kurikulum. Ketiganya saling berkaitan dan kunci utama ada pada tenaga pendidik.

“Kalau kurikulumnya baik tapi gurunya tidak punya kompetensi ya bablas. Kemudian gurunya dan kurikulum bagus dan kompetensinya rata-rata bagus, tapi sarana prasarananya kedodoran ya enggak bisa juga,” lanjutnya.

Rusman yang latar belakang pendidikanya adalah sarjana pendidikan menjelaskan, ketiga faktor  penentu keberhasilan pendidikan harus saling sinkron. Saat guru mengajar mesti didukung dengan sarana prasarana yang sesuai dengan zaman sekarang. Begitu pula dengan tuntutan kompetensi yang dimiliki. Sehingga dalam pembelajaran tidak terjadi ketertinggalan.

“Jadinya enggak pernah linier. Selalu ada ketimpangan. Kita tidak boleh hanya melampiaskan ke guru kalau pemerintah tidak melakukan peningkatan kompetensi guru,” tambah Rusman.

Dikatakan pula, ada sejumlah tanggung jawab yang harus dipenuhi pemerintah. Yakni selalu meningkatkan kompetensi para guru dengan cara menggelar pendidikan formal kesetaraan dan sering melakukan upgrading guru dalam rangka meningkatkan keilmuan dengan mengikuti dinamika tren teknologi.

“Sekarang enggak bisa kita lepaskan teknologi dan ilmu pengetahuan. Kalau ilmunya si guru tidak ter-update bagaimana bisa mengajar siswa,” tandas Rusman.

Penulis : Muhammad Fahrurozi  | Editor : Intoniswan

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *